|
Opsi Pinjaman Bank Terbuka Buat Krakatau
Kamis, 22 Mei 2008 | 00:46 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah terbuka terhadap opsi penggalangan dana untuk PT Krakatau Steel (Persero) diluar metode privatisasi. Manajemen dan komisaris Krakatau mengusulkan opsi penggalangan dana lewat pinjaman perbankan. "Semua alternatif harus dibuka untuk mendapatkan opsi terbaik," ujar Sekretaris Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara Said Didu, Rabu (21/5).
Said mengatakan, Komite Privatisasi yang terdiri dari perwakilan pemerintah memberikan dua opsi privatisasi, yakni penjualan ke mitra strategis atau penawaran saham perdana di bursa (initial public offering/IPO). Kedua rencana itu akan dibahas dengan Dewan Perwakilan Rakyat. "Ada yang mengatakan, IPO itu sudah tertutup, itu sama sekali tak benar," katanya menegaskan. Selama ini Menteri Perindustrian Fahmi Idris selalu mengatakan pemerintah telah mendrop opsi IPO.
Menurut Said, opsi yang dipilih, dana yang berhasil dihimpun diperuntukkan bagi pengembangan Krakatau. "Bukan untuk kas pemerintah," katanya. Bila opsi privatisasi yang dipilih, pemerintah akan mempertahankan saham 65-70 persen, diantaranya dengan menerbitkan saham baru atau saham negara yang dilepas.
Komisaris Krakatau Zacky Anwar Makarim menjelaskan, kondisi keuangan Krakatau yang sehat memungkinkan opsi pinjaman. Untuk pengembangan kapasitas produksi menjadi 5 juta ton pada 2011 dibutuhkan dana sekitar Rp 8,16 triliun.
Menurut dia, beberapa bank sudah gencar menawarkan pinjaman, baik sindikasi asing atau lokal. "Tanpa privatisasi, Krakatau masih mampu mendanai pengembangan usaha," ujar Mantan Kepala Badan Intelijen TNI. Zacky mengatakan, Krakatau baru saja mendapat pinjaman US$ 200 juta dari Deursche Bank.
Per April 2008, kata dia, laba bersih Krakatu mencapai 425 miliar. Pada akhir 2008, laba bersih yang diperkirakan Rp 850 miliar kemungkinan diubah targetnya menjadi Rp 1,2 triliun. "Kondisi pasar baja sedang sangat bagus," katanya.
Anggota Komisi Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat Dradjad Wibowo menilai opsi IPO sebagai opsi terbaik karena mendukung transparansi bagi perusahaan. "Sebagian besar anggota di DPR sepertinya setuju dengan opsi IPO," tuturnya.
Dia mensiyalir pihak-pihak yang mendukung penjualan ke mitra strategis kemungkinan akan gencar melakukan lobi ke anggota dewan. "Setiap perusahaan selalu mengalokasikan success fee sekitar 2-5 persen dari nilai transaski, itu hal yang wajar di dunia bisnis," katanya.
Biaya yang dikeluarkan perusahaan ini, kata Drajad, menjadi sangat besar bila dikalkulasikan nilai investasi sekitar US$ 5-10 miliar. "Biaya kampanye 2009 bisa terpenuhi," ujarnya.
YULIAWATI | ALI NY
INDEKS BERITA LAINNYA :
|