Realisasi Akuisisi Rio Tinto Tertunda

Sabtu, 05 Juli 2008 | 09:19 WIB

TEMPO Interaktif, Brussel:


Kepastian akusisi Rio Tinto Inc., oleh BHP Billiton Ltd tertunda setelah Komisi Uni Eropa memutuskan menelusuri dugaan persaingan usaha tidak sehat pada rencana akuisisi tersebut. Berdasar aturan Uni Eropa, Komisi memiliki waktu hingga 11 November mendatang untuk memutus perkara ini.

Hasil investigasi awal, aksi jual beli dua pemain global pertambangan itu beresiko pada pembentukan harga yang lebih tinggi dan pengurangan pasokan hasil tambang sehinggi mengurangi pilihan konsumen.

Ketua Komisi Persaingan Usaha Uni Eropa Neelie Kroes mengatakan, komoditas produksi BHP Billiton dan Rio Tinto berupa bahan dasar yang sebagian besar untuk kebutuhan industri, seperti biji besi, batu bara, uranium, aluminum, berlian dan barang logam lainnya.

"Desakan utama saat ini ialah harga yang telah berdampak serius pada pembelian komoditas oleh industri dan konsumen," kata Kroes seperti dikutip Associated Press, semalam.

Februari lalu, penawaran BHP Billiton atas kepemilikan Rio Tinto diterima seharga 147,4 miliar dolar AS. Harga tersebut akan fluktuatif sesuai dengan harga saham pada eksekusi pengambil-alihan dengan perbandingan valuasi 3,4 lembar saham BHP Billiton untuk setiap lembar saham Rio Tinto.

BHP Billiton dan Rio Tinto adalah pemain terbesar kedua dan ketiga dunia pada industri pertambangan. Bersatunya dua entitas bisnis ini diperkirakan bakal menjadi perusahaan tambang super dan menggeser posisi Companhia Vale do Rio Doce sebagai perusahaan tambang terbesar di dunia.

Selasa lalu, BHP Billiton menyatakan Komisi Persaingan Usaha Amerika Serikat mengabulkan sebagian persetujuan penawaran harga pengambil-alihan Rio Tinto yang saat ini telah menjadi 170 miliar dolar AS. Namun akuisisi tersebut masih memerlukan persetujuan pemerintah Uni Eropa dan Australia karena Rio Tinto dan BHP Billiton terdaftar pada bursa London dan Australia.

Mei lalu, kalangan produsen baja Eropa mendesak Komisi Persaingan Usaha Uni Eropa mencegah jual beli tersebut. Mereka khawatir, akuisisi itu berpotensi membuka jalan kedua perseroan untuk menetapkan harga untuk bahan baku baja.

AGOENG WIJAYA AFP

TOPIK






Komentar Anda

Kirim