Industri Kreatif Serap 5 Juta Tenaga Kerja

Jum'at, 08 Agustus 2008 | 22:29 WIB

TEMPO Interaktif, BANDUNG:Perkembangan industri kreatif di Indonesia ternyata memberikan kontribusi yang lumayan dalam perekonomian Indonesia. Setidaknya menurut Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, tahun 2008 saja, industri ini menyerap sekitar 5 juta orang sebagai tenaga kerja. ”Dengan kontribusi ke PDB sekitar 6,3 persen” kata Menteri Mari seminar Urban Planning dan Budaya Kreatif di Kampus ITB, Bandung, Jumat (8/8).

Menteri Mari memaparkan, hingga saat ini industri kreatif masih diungguli produk kerajinan tangan. Dari tahun ke tangan, potensi industri ini kian meningkat. Mayoritas, industri ini berasal dari kerajinan dari Yogyakarta, Jawa Tengah, Bali dan sekitar Jakarta.
Di luar kerajinan, fashion (high fashion), musik, dan film mengalami pertumbuhan yang luar biasa tinggi. ”Karena kita punya domestic marketnya,” ujarnya.

Mari mencontohkan, industri film misalnya. Tahun 2004 hanya sekitar 20 film yang diproduksi. Namun sekarang sudah hampir 100 film dan dalam kurun waktu beberapa tahun, pertumbuhannya hampir 3-4 kali lipat. Jika empat tahun lalu konsumsi film dalam negeri 40 persen, film luar negeri 60 persen, sekarang situasinya berbalik. ”Musik juga sama, 80 persen konsumsi musik indonesia,”ujarnya.

Begitu pula dengan industri animasi. Dari sejumlah industri animasi setidaknya ada lima atau enam industri yang sudah melakukan outsourcing. ”Namun industri ini masih kecil bargaining powernya karena masih tersebar,”ujarnya.

Menurut Mari, proses outsorcing ini harus didukung agar bisa terkenal. Sejauh ini, ia mengaku sudah membahas dengan microsoft, apakah mereka bisa memberi software yang digunakan untuk desain dan apakah bisa diberikan kepada sekolah-sekolah. Khususnya sekolah yang berkaitan dengan desain dengan harga lebih murah. ”Saya sudah mengunjungi beberapa tempat yang sudah outsourcing ke walt disney, doraemon,” ujarnya.

Mari juga mengakui, masalah utama industri kreatif di Indonesia adalah modal. Tidak adanya agunan yang bisa menjadi jaminan pelaku industri kreatif membuat industri ini sulit mendapat dana dari Bank. Selama ini, bank selalu kesulitan menilai ide dan potensi dari kreativitas. ”Ini bukan sesuatu yang mudah. Kalau pabrik ada pabriknya, kalau ide? Bagaimana menilai ekonominya, barangnya tidak nyata” kata Mari.

Meski begitu, ia sudah membicarakan masalah ini dengan Gubernur Bank Indonesia Boediono. Meski berupaya memfasilitasi, Mari mengaku tak bisa berjanji. ”Meski kita harus beruntung, Gubernur BI kita saat ini, Pak Boediono, saat menjadi Menko Perekonomian sudah tiga kali mendapatkan presentasi soal ini” ujarnya.

Karenanya, Mari mengaku departemennya dan pelaku industri kreatif perlu duduk bersama membahas lagi permodalan. Apakah dalam bentuk dana bergulir, pembentukan lembaga khusus penyaluran dana atau model pendanaan lainnya.
Adelheid Sidharta






Komentar Anda

Kirim