close

Presiden Diminta Beri Sanksi Heru Lelono

Sabtu, 06 September 2008 | 00:02 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Ahmad Mubarok meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan sanksi kepada staf khusus presiden Bidang Otonomi Daerah Heru Lelono. Hal itu akibat tindakan Heru telah menyeret pihak Istana dalam kasusnya.

"Dia (Heru Lelono) telah berulang kali melakukan kesalahan, presiden harus menindaknya," kata Ahmad saat dihubungi, Jumat (5/9).

Sebelumnya, Heru Lelono juga aktif mengusung proyek Blue Energy. Kini,dengan bisnis PT Sarana Harapan Indopangan, dia mengenalkan varietas padi Super Toy HL 2. Kedua kasus itu mengundang kontroversi. Selain itu, tambah dia, Heru pernah mempermalukan presiden di depan parlemen saat membacakan naskah pidato. "Saat itu ada kesalahan penulisan dan menjadi bahan celaan," katanya.

Menurut Ahmad, sanksi itu disesuaikan dengan tingkat kesalahan. "Kalau sudah berkali-kali, tentu presiden tahu apa yang harus diputuskannya," katanya. "Partai hanya mengingatkan secara lisan saja."

Dia membantah dirinya merekomendasikan agar Heru Lelono untuk dicopot dari staf khusus presiden. "Tidak ada rekomendasi itu, tapi tergantung kalau masyarakat sudah memojokkan bisa dipertimbangkan," katanya.

Kemungkinan Heru akan tetap ngotot, Ahmad mengatakan hal itu merupakan kewenangan presiden. "Saya tidak mau menggurui, berpulang pada presiden. Presiden yang mengangkat tentu juga yang akan memberhentikan," katanya.

Terkait dengan kerugian petani, Ahmad meminta perusahaan itu mengganti kerugian dan bertanggung jawab.

Eko Ari Wibowo | Tempo Newsroom
  

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Topik :

Komentar Anda [2] :

  • Negara yang aneh :p

    negara yang aneh.. dimana terdakwa bisa teteup kekeuh jadi pemimpin bahkan bicara mewakili "rakyat", terpidana bisa teteup nggondeli jabatan, dan orang2 konyol yang dijadikan penasehat.. duhh... Tapi saya juga teteup cinta negara ini, saya juga aneh? :p duh..

  • Arogansi hanya karena dekat kekuasaan

    Agaknya intelektual karbitan di Indonesia ini semakin tidak tau diri. Hanya dekat dengan kekuasaan saja, sudah merasa diri sebagai kekuasaan itu sendiri. Nama padi diberi nama HL2 (Heru Lelono 2). Ini bukan hanya keterlaluan, tapi sudah benar-benar tidak tau diri. Sampai sekarang saya kira belum ada nama padi yang menggunakan nama penemunya, baru Heru Lelono yang bukan penemu. Hanya karena dia dekat kekuasaan dan punya uang (yang tidak tau dari mana asal usul uangnya), padi pun diberi namanya sendiri. Suharto saja belum pernah memberi nama untuk tanaman, atau ibu Tien yang bangun Mekarsari. Padahal dua orang ini punya kekuasaan absolut pada jamannya. Heru lelono, yang cengir-cengir dengan kumisnya itu, berani-beraninya memberi nama padi entah temuan siapa, dengan nama HL2 (Heru Lelono dengan dua biji di selangkangannya).

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan