Libur Lebaran Selamatkan Pasar Saham Indonesia
Selasa, 30 September 2008 | 17:45 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pengamat ekonomi Eric Sugandi mengatakan, pasar saham Indonesia selamat dari kejatuhan karena ditutup menyambut liburan panjang Lebaran. Ancaman bagi ekonomi dunia itu muncul setelah Kongres Amerika Serikat menolak usulan pemerintah yang meminta dana talangan US$ 700 miliar untuk mengatasi krisis keuangan di negeri Abang Sam itu.
"Penolakan kongres AS menimbulkan goncangan ekonomi dunia lebih parah, karena sejumlah pasar saham regional terpuruk, namun pasar Indonesia selamat dari tekanan itu karena menyambut liburan panjang Idul Fitri," kata ekonom dari Standard Chartered Bank di Jakarta, Selasa (30/9).
Menurut dia, pemerintah AS kemungkinan akan mencari jalan lain agar krisis keuangan yang menimbulkan goncangan ekonomi dunia dapat diatasi dengan melakukan penawaran lain kepada kongres."Kita lihat sampai akhir pekan ini, apa yang akan diperbuat pemerintah AS untuk mengatasi ekonomi dunia yang semakin parah," ucapnya.
Di Jepang, Bank Sentral Jepang (BOJ), menyuntikkan dana ke pasar uang Tokyo, sebesar 2 triliun yen guna mencegah kekacauan pasar yang meluas. Kebijakan BOJ tersebut dilakukan sebagai upaya meredam guncangan ekonomi. BOJ bersama sembilan bank sentral negara-negara maju melipatgandakan suntikan dolar ke pasar uang dunia.
Selain itu Indeks Dow Jones Industrial Average merosot tajam 777,68 poin (6,98 persen) ditutup pada 10.365,45, poin. Menurut Eric Sugandi, pasar seluruh dunia panik, setelah Kongres AS menolak bail out US$ 700 miliar untuk membantu sistem finansial, karena gejolak finansial akan lebih parah. Pemerintah Amerika harus mencari usulan baru yang dapat diajukan kepada Kongres dalam waktu yang cepat.
Pasar Indonesia, lanjut dia, kemungkinan akan terkena dampaknya, apabila Amerika dalam pekan ini tidak dapat mengatasi, karena tekanan gejolak ekonomi dunia akan semakin kuat. Pelaksana tugas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sri Mulyani Indrawati memastikan akan terus memonitor perkembangan di Amerika Serikat bersama DPR.
"Dari sisi Indonesia apakah itu berhubungan dengan situasi yang sifatnya langsung, seperti apa yang bisa dilakukan dalam jangka pendek untuk 2008," kata Sri Mulyani di Istana Negara, Selasa siang. Dalam pembahasan APBN 2009 dengan DPR, pemerintah akan menyampaikan perkembangan terbaru di AS ini. "Yang sebisa mungkin diantisipasi terhadap situasi yang kemungkinan akan terus berkembang, yaitu pada 2009."
Sri Mulyani mengakui krisis yang meluas di Amerika akan mempengaruhi target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2009 sebesar 6,3 persen. "Pada 2009 memang risikonya menjadi jauh lebih besar," katanya.
Antara, Ninin Damayanti
Topik :




Komentar Anda :