Resesi Membayangi Singapura

Rabu, 08 Oktober 2008 | 10:16 WIB

TEMPO Interaktif, Singapura: Para pakar ekonomi mengatakan Singapura akan memasuki resesi pertama sejak 2002 saat negara kota itu harus menerima dampak pelesuan perekonomian AS akibat krisis keuangan terburuk sejak masa Depresi Berat.

Negara terkaya di Asia Tenggara terkait pendapatan per kapita itu sangat bergantung pada perdagangan, yang membuatnya sensitif terhadap gejolak di negara-negara maju, khususnya pasar ekspor utama AS dan Eropa.

Krisis yang berawal tahun lalu di sektor hipotek berisiko tinggi AS saat ini mempengaruhi negara-negara Eropa, dan Singapura kemungkinan akan menghadapi perluasan dampaknya.

Para ahli memperkirakan dalam data perekonomian pendahuluan untuk kuartal ketiga yang dirilis Jumat ini akan mengkonfirmasi Singapura memasuki resesi teknikal, yang didefinisikan sebaga dua kuartal berturut-turut mengalami kontraksi output ekonomi.

"Kita mencatat hal terburuk di Singapura. Kita mungkin akan melihat dua tahun kontraksi ekonomi (dari 2009 hingga 2010)," kata Song Seng Wun, ahli ekonomi regional di CIMB-GK Research.

Sementara resesi teknikal terakhir terjadi enam tahun lalu, resesi skala penuh yang paling akhir terjadi tahun 2001 ketika perekonomian berkontraksi 2,4 persen selama setahun.

Setelah bertahun-tahun mengalami pertumbuhan, tanda-tanda penurunan muncul dengan data perdagangan yang mengecewakan dan kontraksi di sektor manufacturing penting, termasuk industri elektronik yang bergantung pada ekspor dan industri farmasi.

Di bulan Agustus, ekspor domestik non-oil utama menurun untuk empat bulan berturut-turut, dengan pengiriman elektornika meneruskan penurunan yang dimulai Februari 2007 dan sektor manufacturing menurun 12,2 persen.

Penurunan outuput di bulan Agustus mengikuti penurunan 21,5 persen di bulan sebelumnya.

"Segalanya buruk secara global," kata Kit Wei Zheng, wakil presiden Citigroup untuk analisa ekonomi dan pasar regional.

"Ada banyak risiko penurunan dan dalam skenario itu, seseorang tidak bisa berharap untuk pemulihan yang cepat," ujarnya di Singapura.

Menurut perhitungan para pakar ekonomi, lebih dari dua pertiga perekonomian negara itu senilai US$ 166,46 miliar dikendalikan oleh permintaan eksternal.

Negara pulau ini tidak memiliki pendorong domestik untuk bergantung karena pasarnya dengan 5 juta orang terlalu kecil, kata para ahli.

"Jika dunia dalam resesi, hanya sedikit yang dapat kita dorong," kata Song. "Rencana B kita adalah membuat populasi lokal lebih besar." Dia juga melihat perekonomian Singapura akan terus melambat tahun depan.

AFP/Erwin
 

Komentar Anda (1) :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
  • Resesi singapura

    Jika Singapura bersin Indonesia akan terkena pileknya. Segera beri vitamin untuk mengutkan ekonomi dalam negeri, tidak saja berwacana ! salam Laksanto/peneliti LPSH

    -- Laksanto, Jakarta, 08/10/2008 11:10:51 wib

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :