Pembatasan Ekspor Timah Dibatalkan
Rabu, 08 Oktober 2008 | 18:22 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah tidak jadi melakukan pembatasan ekspor komoditi timah. "Tahun depan tidak tahu (perlu adanya pembatasan atau tidak)," ujar Direktur Jenderal Mineral, Batu bara dan Panas Bumi, Bambang Setiawan, Rabu (8/10).
Menurut Bambang saat ini ekspor timah cenderung menurun karena permintaan terhadap komoditi itu berkurang. "Kalau permintaan kecil ngapai harus dibatasi," katanya.
Sebelumnya pemerintah sempat berencana untuk melakukan pembatasan ekspor timah maksimum 100 ribu ton per tahun. Pembatasan itu dilakukan dengan menggenakan kuota produksi bagi produsen timah.
"Tapi tampaknya tahun ini tanpa dibatasi pun tidak akan mencapai 100 ribu ton," ujar Bambang. Rencana pemeritah melakukan pembatasan itu ditujukan untuk menjaga agar kuota produksi timah tidak berlebih.
"Agar tidak over supply yang bisa menyebabkan harga timah terpuruk," ujar Bambang. Saat ini Indonesia produsen sekaligus eksportir timah terbesar di dunia. Sekitar 30 hingga 35 persen kebuuhan timah dunia dipasok dari Indonesia.
"Sehingga memungkinkan kita untuk mempengaruhi harga timah internasional," jelas Bambang. Selain itu pembatasan kuota produksi juga diharapkan bisa mengurangi eksploitasi tambang timah secara berlebih karena harga timah yang cenderung naik.
Hingga semester pertama tahun ini harga timah di pasar internasional berkisar di US$ 19 ribu per metrik ton. Naik cukup tinggi dari harga pada akhir tahun 2007 yang hanya mencapai US$ 14,5 ribu per metrik ton.
Saat ini ekspor timah hanya dilakukan oleh perusahaan yang memiliki status Ekspor Terdaftar Timah batangan (ET-Timah). Ada sekitar 17 perusahaan yang memiliki status ET-timah.
Agung Sedayu
Topik :




Komentar Anda :