Bank Sentral Beri Sinyal BI Rate Akan Turun

Kamis, 09 Oktober 2008 | 22:04 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta :Bank Indonesia (BI) beri sinyal tidak akan kembali menaikkan suku bunga acuan (BI rate) sampai akhir tahun karena kenaikan bunga selama enam bulan berturut-turut dianggap sudah mampu menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.


Deputi Gubernur Senior BI Miranda Swaray Goeltom mengatakan langkah BI menaikkan suku bunga didasarkan pada kondisi perekonomian Indonesia yang berbeda dengan negara lain. "Sebenarnya kondisi ekonomi Indonesia masih lebih baik ketimbang negara-negara maju yang sudah mengalami resesi," kata Miranda di Departemen Keuangan Jakarta, Kamis (9/10).

Seperti diberitakan, Bank sentral Amerika Serikat menurunkan suku bunga secara mendadak untuk mencegah semakin memburuknya sistem keuangan.
the Federal Reserve menurunkan suku bunga acuan 50 basis poin menjadi 1,5 persen.

Tindakan The Fed itu langsung diikuti bank sentral lain seperti European Central Bank (ECB), bank sentral Inggris, Kanada, dan Swiss. Menurut the Fed data ekonomi terbaru menunjukkan aktifitas ekonomi telah menurun dalam beberapa bulan sehingga perlu melakukan kebijakan tambahan untuk meningkatkan likuiditas yang seret di pasar dan meningkatkan akses kredit bagi rumah tangga dan pengusaha.

Bank of England menurunkan suku bunganya setengah persen menjadi 4,50 persen. Langkah bank sentral ini langsung disambut positif oleh bursa London. Sedangkan European Central Bank memotong suku bunganya setengah persen menjadi 3,75 persen. ECB melakukan pemotongan itu berdasarkan koordinasi dengan bank Kanada dan Swiss.

Cina juga memotong suku simpanan satu tahunnya sekitar 27 basis poin menjadi 3,87 persen mulai hari Kamis. Sedangkan suku bunga pinjaman akan turun 27 basis poin menjadi 6,93 persen. Sementara Bank Indonesia tidak bisa mengikuti karena terlebih dahulu menaikkan suku bunga BI Rate ke level 9,5 persen.

Miranda mengemukakan bahwa BI berusaha mengarahkan sasaran inflasi tetap berada dalam koridor yang sudah ditetapkan sebelumnya. "Perkiraan perekonomian yang akan membaik, membuka ruang untuk menurunkan suku bunga," ujar dia.

Menurut Direktur Indef M. Ikhsan Modjo, langkah BI menaikkan suku bunga akan memangkas investasi serta menggerus keunggulan komparatif perdagangan di tengah persaingan perdagangan yang mengetat. "Menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi tidak relevan, karena ke depan ada prospek penurunan harga pangan dan minyak akibat resesi global sehingga bisa mengurangi tekanan inflasi," ujarnya.


Eko Nopiansyah

Topik :

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :