Akibat Krisis Global, Ekspor Mebel Turun 50 Persen
Senin, 13 Oktober 2008 | 13:17 WIB
TEMPO Interaktif, Yogyakarta : Akibat krisis ekonomi global, para perajin mebel di Yogyakarta mengalami penurunan ekspor hingga 50 persen. Pasalnya, mayoritas eksportir mebel dari Yogyakarta mengirim produk ke Amerika dan Eropa.
“Order dari para importer Amerika dan Eropa menurun drastis, karena patokan kami dengan dolar,” kata Tomolius, ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia Yogyakarta, hari ini.
Menurut dia, anggapan sebagian orang yang mengatakan akibat kurs dolar naik, harga ekspor mebel juga membaik keliru. Dengan kenaikan kurs dolar, menurut dia, pesanan dari luar negeri sangat sepi. Sehingga para perajin di Yogyakarta memilih cara yang aman dengan mengorderkan ke perajin kecil dengan barang setengah jadi. “Kami hanya melakukan finishing,” kata dia.
Para pengusaha dari luar negeri saat ini masih takut membelanjakan uang mereka karena keadaan yang belum kondusif. Saat ini, Tomo yang juga pengusaha permebelan menambahkan, pihaknya mengurangi tenaga yang menangani permebelen di pabriknya.
Dulu ia mempunyai 70 pegawai, namun saat ini banyak pegawai yang hanya dipekerjakan jika dibutuhkan. “Dulu pekerja saya ada 70 orang, sekarang tinggal 25 orang saja yang masuk kerja setiap hari,” kata Tomo. Biasanya, omzet ekspor mebel ke luar negeri mencapai Rp 2 Miliar per bulan, namun saat ini diprediksi hanya mencapai Rp 1 miliar saja.
Menurut Ambar Polah Tjahyono, ketua Umum Asmindo yang dihubungi melalui telepon menjelaskan, sebenarnya kondisi penurunan order (pesanan) sudah dirasakan sejak 4 bulan yang lalu, namun dampak yang cukup signifikan setelah adanya krisis global saat ini.
“Kami akan membidik pasar Rusia sebagai urutan pertama untuk pengalihan pasar. Karena Rusia sebagai pangsa pasar baru sebagai Negara yang tidak terpengaruh oleh krisis global,” kata dia.
Yang menjadi kendala, menurut dia, adalah hubungan perbankan antara Indonesia dan Rusia yang kurang baik dan hubungan dengan Kedutaan Indonesia di Rusia yang kurang optimal.
Ambar menambahkan, jumlah perusahaan mebel di Yogyakarta sekitar 1.100, sekitar 600 di antaranya merupakan perusahaan besar dan 500 perusahaan menengah dengan total pekerja sekitar 70 ribu orang.
Muh. Syaifullah
Topik :




Komentar Anda :