Indeks Saham Menguat 10 Poin
Senin, 13 Oktober 2008 | 17:48 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Hari pertama perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia setelah dihentikan selama 3 hari, menunjukkan hal yang positif. Indeks harga saham gabungan ditutup menguat 10 poin ke posisi 1.461. Saham-saham perusahaan yang telah menyatakan kesiapannya kepada Bapepam untuk melakukan pembelian kembali saham (buyback) juga menguat.
Saham PT Aneka Tambang Tbk menguat 100 poin ke level Rp 1.150 per saham, PT Semen Gresik naik 180 ke Rp 2.030, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk melesat 500 poin menjadi Rp 5.750, PT Perusahaan Gas Negara naik 150 ke Rp 1.740, saham PT Wijaya Karya Tbk ditutup di level Rp 181 atau naik 18 poin, PT Jasa Marga Tbk naik 70 menjadi Rp 830 per saham. Kesemua saham tersebut mengalami autorejection dan otomatis dihentikan sementara perdagangannya.
Mengenai auto rejection, Direktur Utama BEI Erry Firmansyah menjelaskan sebagai sistem otomatis perdagangan di bursa, di mana jika saham turun atau naik lebih dari 10 persen, otomatis berhenti. Tapi begitu ada penawaran beli atau, saham secara otomatis dapat diperdagangkan lagi. "Auto rejection itu biasa, kalau ada penawaran atasnya, saham bisa langsung diperdagangkan kembali" kata Erry.
Saham PT Adhi Karya Tbk menguat 20 poin ke level Rp 255, PT Elnusa naik 9 poin menjadi Rp 140, saham PT Sampoerna Agro Tbk bertambah 80 poin ke Rp 1.140, PT London Sumatera Plantation Tbk memberi keuntungan 175 dan ditutup Rp 2.325, dan PT Surya Citra Media naik 30 ke posisi Rp 800. Sementara saham PT Duta Graha Indah Tbk yang juga berencana buyback tak menikmati keuntungan seperti yang dialami saham lainnya, saham berkode DGIK ini ditutup melemah 4 poin ke posisi Rp 68 per saham.
Pada pembukaan perdagangan hari ini, pukul 09.30 WIB, indeks langsung melemah 62,854 poin atau 4,32 persen hingga menembus level psikologis baru 1.388,814.
Erry menilai, perdagangan hari ini berlangsung cukup wajar dan tidak ada kepanikan berlebihan dari pelaku pasar. Penurunan indeks yang terjadi pagi tadi, hanya merupakan kalkulasi tekanan jual yang dilakukan investor terhadap saham-saham yang tidak dapat ditransaksikan selama BEI dihentikan perdagangannya sejak 8 Oktober lalu.
Ari Astri Yunita
Topik :






Komentar Anda :