Perubahan Asumsi Harga Minyak Mengkhawatirkan
Selasa, 14 Oktober 2008 | 19:12 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta :Perubahan asumsi harga minyak pada Rancangan Anggaran dan Penerimaan Negara (APBN) 2009 dinilai mengkhawatirkan dan terlalu dini dilakukan. Meski harga minyak dunia terus menurun belakangan ini, musim dingin di belahan utara dunia belum berakhir hingga Desember mendatang.
“Artinya tren peningkatan permintaan masih terbuka, harga minyak dunia masih sangat memungkinkan naik kembali,” kata pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance, M Ikhsan Modjo, kepada Tempo Selasa (14/10).
Dia menilai perubahan asumsi anggaran sebenarnya belum mendesak dilakukan. Ikhsan mengatakan, pemerintah seharusnya tetap fokus pada upaya penyelamatan likuiditas dan pasar modal dari ancaman resesi global.
Seperti diberitakan, pemerintah lewat Departemen Keuangan mengusulkan perubahan asumsi makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2009 menyusul krisis keuangan Amerika Serikat yang menyeret perekonomian global.
Asumsi pertumbuhan ekonomi misalnya, diusulkan diubah dari 6,3 persen menjadi 5,5 persen sampai 6,1 persen. Asumsi nilai tukar juga diusulkan diubah dari kesepakatan semula Rp 9.150 per dolar AS menjadi Rp 9.500 per dolar AS. Sedangkan asumsi inflasi berubah dari 6,2 persen menjadi 7 persen.
Khusus asumsi harga minyak dunia, pemerintah mengusulkan diturunkan menjadi 85 dolar AS per barel AS dari kesepakatan dengan panitia anggaran sebelumnya sebesar 95 dolar AS per barel. Selasa (14/10) siang, Dewan menyepakati asumsi harga minyak dalam anggaran 2009 diubah menjadi 80 dolar per barel AS.
Ikhsan khawatir jika asumsi harga minyak dunia itu tak tercapai. Jika harga minyak jauh di atas asumsi, kata dia, target defisit anggaran 2009 dipastikan membengkak dari yang kini diusulkan pemerintah untuk diubah menjadi 1,3 persen dari sebelumnya disepakati 1,7 persen. “Masalahnya, apakah ketahanan ekonomi kuat menopang defisit yang tinggi,” ujarnya.
Analis perminyakan, Dirgo Purbo, juga mengungkapkan kekhawatirannya. Namun berbeda dengan Ikhsan, Dirgo lebih mengkhawatirkan sikap pemerintah dan Dewan yang sama sekali tak pernah membahas besaran impor minyak. “Padahal itu salah satu intinya,” katanya.
Dia menjelaskan, dengan asumsi 80 dolar AS per barel dan produksi minyak 950 ribu barel per hari, artinya pemerintah hampir dipastikan akan memperoleh anggaran sekitar 76 juta dolar AS per hari.
Permasalahannya, separuh lebih konsumsi minyak dalam negeri selama ini masih diimpor dari luar negeri dan tahun depan Indonesia positif menjadi nett importer minyak. “Artinya defisit anggaran bakal naik, strategi seperti apa yang akan dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak?” ujarnya.
Menurut dia, asumsi harga minyak 80 dolar AS per barel sebenarnya cukup realistis. “Tapi pemerintah harus memastikan produksi minyak tahun depan meningkat,” kata Dirgo.
Agoeng Wijaya
Topik :




Komentar Anda :