Ketahanan Energi Nasional Rentan Gejolak Ekonomi Global
Kamis, 16 Oktober 2008 | 11:32 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Ketahanan energi nasional sangat rentan terhadap gejolak ekonomi global dan pertumbuhan permintaan domestik. Indikator kerentanan yang utama adalah besarnya subsidi BBM dan listrik dalam APBN Perubahan 2008 sebesar Rp 186,8 triliun.
"Besarnya subsidi ini sudah pasti mengurangi pangsa anggaran untuk penyediaan barang dan jasa publik lainnya," kata Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Paskah Suzetta hari ini di Jakarta.
"Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena akan terus mengganggu sasaran pembangunan ekonomi yang direncanakan," tambahnya.
Indikator lainnya adalah Indonesia masih menghadapi krisis listrik. Rasio elektrifikasi nasional baru mencapai 64 persen, sedangkan rasio desa berlistrik masih 85 persen. Pemanfaatan energi primer untuk pembangkit listrik 7.143 megawatt atau sebesar 24,6 persen masih memakai BBM. Pemanfaatan energi terbarukan masih 537,6 MW atau 1,6 persen.
Indikator ketiga adalah komposisi bauran energi yang didominasi BBM sebesar 54,4 persen dari total energi nasional. "Komposisi ini sangat rentan terhadap gejolak kenaikan harga minyak dunia," ungkap Paskah.
Sementara indeks intensitas energi Indonesia mencapai 500, masih lebih tinggi dibandingkan Thailan (380) dan Malaysia (420). "Ini menunjukkan Indonesia termasuk negara yang boros dalam mengkonsumsi energi," lanjutnya.
Indikator keempat, Indonesia belum menguasai teknologi energi baik dari hulu maupun hilir. Eksplorasi dan eksploitasi sumber energi primer, minyak dan gas bumi masih dikuasai asing. Di samping itu, teknologi energi baru dan terbarukan sebagian besar diimpor.
"Fakta yang terlihat menunjukkan pemerintah tidak dapat diandalkan dalam pemenuhan konsumsi energi rakyat. Partisipasi swasta sangat dibutuhkan dalam pembangunan sistem penyediaan energi di tanah air," ujar Paskah.
Selain itu, pemerintah juga berupaya mencari alternatif pendanaan nonkonvensional bagi infrastruktur energi, seperti Clean Development Mechanism (CDM), hibah dan pinjaman lunak.
Sorta Tobing
Topik :




Komentar Anda :