Asosiasi Kopi Minta Suku Bunga Pinjaman Diturunkan
Jum'at, 14 November 2008 | 18:41 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) meminta pemerintah membantu menurunkan suku bunga pinjaman untuk kredit pendanaan operasional mereka. Ketua AEKI, Hassan Wijaya mengatakan banyak pengusaha kopi terancam kolaps akibat suku bunga yang mencekik. "Persoalannya adalah suku bunga sekarang sangat tinggi," kata Hassan saat dihubungi, Jumat (14/11).
Hassan menjelaskan, suku bunga terus merangkak naik. Rata-rata suku bunga antara 13 sampai 14 persen. Namun, ada pula perbankan yang memberi suku bunga antara 16 sampai 19 persen. "Kami tidak kuat kalau begini tingginya, kami mohon perhatian pemerintah," keluhnya.
Hassan menambahkan, asosiasinya berharap ada insentif, bantuan berupa penundaan pembayaran hutang, atau penjadwalan ulang pembayaran utang ke perbankan.
Sebelumnya, Menteri Perindustrian Fahmi Idris telah meminta agar pabrik kopi dan pengusaha kafe membeli kopi dalam negeri. Alasannya, harga kopi Indonesia anjlok karena dampak krisis ekonomi global, sehingga stok kopi berlebih.
Pada akhir Oktober lalu, harga kopi Indonesia di pasar internasional merosotan tajam dari US$2,5 kilogram menjadi US$1,65 per kg.
Nieke Indrietta
Komentar (2)
Saya senang mendengar pemerintah perhatikan kelangsungan hidup petani kopi. Efisiensi dan produktivitas pekerja bisa jadi menjadi faktor yang memperbaiki tingkat keuntungan petani. Di sejumlah kebun kopi di daerah Medan, Aceh, dan Sulawesi banyak diselenggarakan compliance assessment untuk meyakinkan bahwa kopi yang diekspor memenuhi standard para pembeli/importir. Dan dengan kualitas dan proses yang memenuhi standard itu maka para petani kopi dapat bertahan. Program compliance assessment itu mencakup bidang sosial, ekonomi dan lingkungan. Mungkin ada baiknya para eksportir mencoba. Saya bisa membantu bidang compliance bagi para eksportir kopi terutama saat ini bagi mereka yang mengekspor kopi Arabika.
Tetap semangat dan sukses!!!!
Suriyah (Yayah), Jakarta Selatan
yayahmanisz@yahoo.com
0816 144 7859/ 021 – 722 7999
Saya senang mendengar pemerintah perhatikan kelangsungan hidup petani kopi. Efisiensi dan produktivitas pekerja bisa jadi menjadi faktor yang memperbaiki tingkat keuntungan petani. Di sejumlah kebun kopi di daerah Medan, Aceh, dan Sulawesi banyak diselenggarakan compliance assessment untuk meyakinkan bahwa kopi yang diekspor memenuhi standard para pembeli/importir. Dan dengan kualitas dan proses yang memenuhi standard itu maka para petani kopi dapat bertahan. Program compliance assessment itu mencakup bidang sosial, ekonomi dan lingkungan. Mungkin ada baiknya para eksportir mencoba. Saya bisa membantu bidang compliance bagi para eksportir kopi terutama saat ini bagi mereka yang mengekspor kopi Arabika.
Tetap semangat dan sukses!!!!
Yayah, Jakarta Selatan
0816 144 7859/ 021 – 722 7999

