BP Migas Urung Batasi Biaya Produksi Minyak

Kamis, 04 Desember 2008 | 00:02 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) membatalkan kebijakan pembatasan pengembalian ongkos produksi (cost recovery) minyak dan gas. Pembatasan dinilai kontra produktif dengan kondisi sekarang ini ketika pemerintah berupaya meningkatkan produksi minyak.

Kepala Badan Pelaksana R. Priyono mengatakan, pemerintah dituntut memenuhi target pendapatan negara sektor minyak dan gas sebesar Rp 218,8 triliun pada 2009, yakni dari pendapatan pajak Rp 56,7 triliun dan pendapatan bukan pajak Rp 162,1 triliun.

Target itu ditetapkan dengan asumsi harga minyak pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2009 sebesar US$ 80 per barel. Padahal, harga minyak saat ini terus turun di bawah US$ 50. Pembayaran biaya produksi tahun depan dianggarkan sebesar US$ 11,05 miliar dengan asumsi produksi minyak 960 ribu barel per hari.

Menurut Priyono, untuk mencapai target pendapatan diperlukan peningkatan produksi. "Kalau produksi harus naik dan biaya produksi dibatasi, kasian kontraktor," katanya, Rabu (3/12). Dia belum bisa memastikan berapa besaran cost recovery yang diperlukan tahun depan di tengah tren merosotnya harga minyak dunia.

Ketika menghadapi lonjakan harga minyak pemerintah berupaya mengurangi beban anggaran 2009 dengan membatasi pembayaran biaya produksi. Rencana pembatasan itu akan diterapkan dengan menahan pembayaran terhadap produksi minyak dan gas di atas 5.000 barel per hari dan dialihkan ke tahun anggaran berikutnya.

Besaran pembatasannya bervariasi. Produksi berkapasitas 5.000-10.000 barel akan dibatasi 10 persen. Sedangkan produksi berkapasitas di atas 10.000 barel akan dibatasi hingga 20 persen.

Biaya produksi minyak yang dibayarkan negara setiap tahunnya mengalami kenaikan. Tahun ini biaya produksi minyak diperkirakan mencapai US$ 11 miliar atau sekitar Rp 132 triliun (dengan kurs Rp 12.000). Pada 2007 total cost recovery sekitar US$ 10 miliar (Rp 120 triliun). Jumlah itu naik dibandingkan pada 2006 sebesar US$ 9 miliar (Rp 108 triliun) dan US$ 7,5 miliar (Rp 90 triliun) pada 2005.

Sayangnya, lonjakan biaya setiap tahun tidak dimbangi dengan kenaikan produksi minyak. Pada 2005 total produksi minyak mentah dan kondensat sebesar 1,06 juta barel per hari. Jumlah itu melorot menjadi 1,007 juta barel pada 2006.

Pada tahun lalu produksi minyak mentah dan kondensat hanya 950 ribu barel dari target satu juta barel per hari. Sedangkan pada 2008, target produksi diturunkan menjadi 910 ribu barel atau lebih rendah dari yang ditargetkan Priyono sebesar satu juta barel ketika menjalani uji kelayakan dan kepaturan di Dewan Perwakilan Rakyat Maret lalu.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas, Evita Herawati Legowo mengatakan, upaya penambaha produksi minyak sukar dilakukan pada tahun depan. Bahkan, untuk mencapai target 2009 sebesar 960 ribu barel per hari sulit dicapai. "Tapi kami optimis bisa mencapainya," katanya.

Dia berjanji baru bisa meningkatkan produksi pada 2011 dengan produksi 1,1 juta barel per hari. Tapi, Evita tak bisa menjelaskan detil sumber tambahan produksi itu.

ALI NUR YASIN | AGOENG WIJAYA

Topik :

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :