Mimpi Theodoros
Senin, 14 Juni 2004 | 11:04 WIB
Theodoros dan Nicolaos, dua lelaki Yunani itu, baru kembali ke kamarnya pukul 02.30 dini hari waktu Portugal. Meski terlihat mengantuk dan kekenyangan, keduanya masih bisa tertawa riang saat berpapasan di lobi sebuah hotel di Porto.
"Masih ingat apa yang saya katakan dua hari lalu? Yunani akan menang," kata saya. Keduanya pun menyalami saya.
Berusaha mencoba menahan kantuk, keduanya menyatakan gembira atas kemenangan itu. Keduanya tak menduga timnya bakal menang. Tapi mereka pun sependapat bahwa Yunani tampil cemerlang menghadapi Portugal.
Dua hari sebelumnya, saya memang bertemu Theodoros dan Nicolaos di tempat yang sama. Kepadanya, iseng saja saya katakan Yunani bakal menang. Saya pun tak yakin sepenuhnya Yunani bisa mengalahkan Portugal. Apa yang saya yakini adalah Yunani takkan kalah dalam pertandingan tersebut. Theodoros yang lebih fasih berbicara bahasa Inggris membantah. "Kalau menang tak mungkin. Tapi kami masih berpeluang menahan imbang," katanya.
Kami pun terlibat diskusi mengisi waktu sarapan. Ketika saya tanya siapa pemain terbaik di tim Yunani saat ini, dia jawab Vasilios Tsiartas. Saya sependapat. Tapi Theodoros tak sependapat ketika saya sebutkan Angelis Bassinas bakal jadi salah satu kekuatan kunci. "Belakangan dia tidak bagus," katanya. Saya pun memberi alasan penampilan Bassinas yang cemerlang saat mereka menang di kandang Spanyol.
Theodoros pun bercerita tentang pemain-pemain Yunani yang membela klub-klub luar negeri. Menurut dia, para pemain tersebut bukanlah yang terbaik saat ini karena mereka jarang dimainkan di klub mereka. Di akhir pembicaraan, saya katakan Yunani akan jadi juara. Theodoros langsung memotong dan menyatakan tidak. "Setidaknya nanti di Olimpiade," kata saya.
Sejak saat itu, saya tak pernah lagi bertemu dengan Theodoros maupun Nicolaos. Di stadion, saya pun tak melihat wajah keduanya, kendati pendukung Yunani hanya mengisi dua dari 25 pintu masuk Stadion Dragao.
Kami baru bertemu lagi secara tak sengaja dini hari Minggu lalu. Begitulah, keduanya tampak senang dengan sukses timnya.
Kali ini, Theodoros seperti enggan membantah pernyataan saya. Dia pun menyatakan Yunani tampil bagus, terutama di barisan belakang sehingga sulit ditembus Luis Figo dan kawan-kawan. "Otto Rehhagel juga pelatih yang brilian," tiba-tiba Nicolaos yang jarang bicara membuka suara. Theodoros mengaku mereka baru saja menikmati pesta bersama pendukung Yunani di pusat kota Porto. Mereka makan-makan dan minum untuk merayakan sukses timnya. "Ya, Bassinas pemain yang hebat. Dia punya pergerakan cepat dan bagus," kata Theodoros. Rupanya dia ingat pernyataan saya dua hari sebelumnya soal pemain asal Panathinaikos itu.
Saya, terus terang, tak terkejut dengan pengakuannya itu. Yang membuat saya terkejut adalah ketika Theodoros dengan keyakinan tinggi berujar; "Yunani akan jadi juara."
Saya tahu, kawan ini hanya terbawa euforia kesuksesan menaklukkan tuan rumah. Langsung saya sadarkan; "Tidak. Tidak sekarang." Dia pun segera masuk ke kamarnya, ia pasti langsung merebahkan diri, tidur dan terlelap, barangkali bersama mimpinya bahwa Yunani akan jadi juara Piala Eropa kali ini.
Zulfirman, Wartawan Koran Tempo
Topik :



Komentar Anda :