Melewati Hari-hari yang Menegangkan

Rabu, 16 Juni 2004 | 11:17 WIB

Hingga hari ini sejak Selasa pekan lalu, saya harus dihadapi dengan kondisi tak menentu. Portugal yang saya kenal sebagai negara misterius, benar-benar menakutkan. Saya butuh waktu untuk beradaptasi, apalagi mengenal lebih jauh Portugal.

Sejak menginjakkan kaki di bandar udara Francisco Sa Cameiro, Oporto, suasana yang saya hadapi selalu berubah-rubah. Suasana yang menegangkan, mencekam, ini lantaran saya mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang-orang Portugal. Sebagai tuan rumah, mereka seharusnya ikut membantu tamu-tamu yang datang, tak kecuali siapa pun.

Begitu menginjakkan kaki di Portugal, di bandara, saya sudah disuguhkan muka-muka yang tak bersahabat dan penuh curiga. Jangankan bersikap ramah, tersenyum pun mereka tidak. Padahal saya sudah mencoba memancing dengan kata 'bom dia'.

Saya memang tidak harus menyerah melihat kondisi ini, apalagi harus pulang. Untuk lebih jauh mengenal Portugal, banyak jalan yang saya temui. Portugal memang terkesan kirang siap menghadapi perhelatan akbar Eropa ini. Otoritas Portugal telah menyebarkan 500 ribu selebaran bagi para pendukung tim masing-masing negara. Barangkali bagi mereka yang negaranya dekat dengan Portugal, tentu tak membutuhkan petunjuk ini. Apalagi mereka yang pernah masuk ke Portugal. Tapi, betapa pun, saya masih mencari berbagai petunjuk untuk lebih jauh mengenal Portugal, sekalipun hanya lewat sebuah selebaran.

Dalam menjalani tugas, saya harus pindah dari satu kota ke kota yang lain. Hari ini saya berada di Porto dan besok mungkin berada di Lisbon, atau Coimbra. Dengan hanya menenteng ransel di punggung, pada akhirnya, saya sangat menikmati perjalanan dengan kereta api. Tapi, saya tak akan bisa menutup ketakutan ketika bertemu dengan para suporter yang tampangnya ganas.

Ketika menuju Lisbon, misalnya, saya harus dihadapi dengan hati yang tak menentu. Saya satu gerbong dengan para pendukung Inggris yang bermuka sangar. Bayangkan, saya yang berbadan kecil harus berada di tengah-tengah para bule yang berbadan besar dan kekar. Ketakutan? Tentu. Tapi, saya beruntung tak terjadi hal-hal yang saya takutkan. Saya coba tersenyum, dan mereka pun membalasnya.

Tapi, kini, setelah delapan hari berada di Portugal, saya sudah dapat mengatasi hal-hal yang menakutkan. Hari-hari menegangkan sudah saya lewati. Satu hal yang masih agak linglung adalah soal menyocokkan waktu Portugal dan Indonesia. Tapi saya masih ingat pesan teman di Jakarta sebelum berangkat. "Jangan lupa pakai jam waktu Indonesia dan kalkulator jika ingin berbelanja.". Ah, Euro masih panjang....

Zulfirman, Wartawan Koran Tempo

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :