SWISS VS PRANCIS
Senin, 21 Juni 2004 | 10:27 WIB
SWISS VS PRANCIS
Prancis butuh hasil imbang untuk lolos ke perempat final
COIMBRA-Pelatih Prancis Jacques Santini menyiratkan akan melakukan perubahan pada timnya menjelang pertandingan terakhir Grup B melawan Swiss di Stadion Cidade de Coimbra, Selasa (22/6) dini hari. Prancis membutuhkan minimal hasil imbang untuk memuluskan langkah ke babak perempat final.
Perubahan itu dilakukan karena Santini sadar tim lawan sudah mengetahui taktik Prancis. "Tak ada tim yang tak mempelajari strategi kami. Mereka semua tahu bagaimana kami main dan mereka mempersiapkan diri (mengatasinya)," kata Santini di markas timnya, Santo Tirso, Portugal.
Prancis dalam dua tahun terakhir selalu tampil dengan formasi yang sama, 4-4-2. Belakangan, strategi ini mulai dibaca lawan. Faktanya, Prancis mulai kesulitan, terutama dalam tiga penampilan terakhirnya.
Dalam pertandingan pemanasan terakhir menjelang Piala Eropa, mereka membutuhkan gol Zinedine Zidane di menit ke-88 untuk mengalahkan Ukraina 1-0. Saat menghadapi Inggris, Prancis nyaris kalah kalau saja Zidane tak kembali menjadi penyelamat lewat dua golnya di menit-menit akhir. Puncaknya, adalah tatkala Prancis tertinggal lebih dulu 1-2 sebelum bermain imbang lawan Kroasia 2-2 di Stadion Magalhaes Pessoa, Leiria, Kamis (17/6).
"Dalam tiga pertandingan terakhir, kami selalu tampil dengan skenario yang sama. Lawan berhasil memotong bola di antara gelandang dan penyerang kami," tutur Santini.
Dalam pertandingan menentukan ini Zidane masih diandalkan untuk menjadi pemimpin tim. Berkat kepemimpinannya, Prancis terhindar dari kekalahan dalam dua pertandingan sebelumnya. "Dia (Zidane) bilang jangan panik dan bersabar karena masih banyak waktu tersisa," demikian ungkap Mikael Silvestre.
Prancis harus bangkit untuk memuluskan jalan ke perempat final. Menurut bek Bixente Lizarazu, penampilan timnya masih jauh dari 100 persen. "Saya hanya berharap pelatih mampu mengambil keputusan tepat untuk membangkitkan stabilitas dan ketenangan tim," kata Lizarazu, yang tidak diturunkan saat melawan Kroasia.
Santini juga mengkhawatirkan lemahnya lini belakang. Menurutnya, timnya kerap melakukan kesalahan saat bertahan. Tak terhitung jumlahnya berapa kali lawan berhasil merebut bola dari kaki para pemain Prancis.
Salah satu perubahan strategi yang mungkin dilakukan Santini adalah tak lagi bermain dengan pola 4-4-2. Dia tengah memikirkan untuk memindahkan posisi Zidane yang selama ini sering bermain sebagai gelandang kanan agak ke tengah. Dia akan didukung tiga gelandang lain untuk menyuplai bola bagi duet penyerang Thierry Henry dan David Trezeguet.
Soal komposisi pemain, terbuka kemungkinan Santini mengembalikan Marcel Desailly dan Olivier Dacourt ke bangku cadangan. Saat menghadapi Kroasia, keduanya tampil buruk. Desailly bahkan mengakui dirinyalah yang salah ketika gol kedua Kroasia tercipta.
Prancis di atas angin karena belakangan muncul kabar kondisi mental pemain Swiss tak berada dalam puncaknya. "Betul, kami mengalami kesulitan dalam istirahat. Tapi, kami tahu masih ada sedikit peluang lolos ke perempat final," kata bek Swiss, Patrick Muller.
Dalam perhitungan matematisnya, Swiss tak hanya membutuhkan kemenangan untuk lolos. Mereka juga memerlukan bantuan Kroasia, yakni dengan mengalahkan Inggris atau sebaliknya. "Untuk mengalahkan Prancis, kami harus mencetak gol. Mudah-mudahan kami mendapat pertolongan Yang di Atas," kata penyerang Swiss, Alexander Frei.
Namun, Frei belum tentu bisa tampil karena terancam hukuman dari Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA). UEFA sedang menyelidiki tuduhan Frei telah meludahi gelandang Inggris, Steven Gerrard, dalam pertandingan kedua, Kamis (17/6). UEFA menerima rekaman video kejadian itu dari stasiun televisi Jerman, ZDF. Dalam rekaman itu Frei terlihat meludahi Gerrard. UEFA akan memintai keterangan Frei, Gerrard, dan David Beckham pada Minggu (20/6) malam. Sejauh ini Gerrard maupun Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) tidak pernah melaporkan kejadian itu.
Kabar itu tentu saja menjadi pukulan berat buat Swiss yang butuh kemenangan untuk bertahan di Piala Eropa 2004. Ini peristiwa kedua yang terjadi di Portugal setelah UEFA menjatuhkan hukuman tiga pertandingan kepada pemain Italia, Francesco Totti, karena perbuatan serupa.
Jika UEFA menjatuhkan hukuman kepada Frei, pelatih Jakob Kuhn harus kembali memasang penyerang gaek Stephane Chapuisat, 35 tahun, yang belum mencetak satu gol pun dalam 1.200 menit. Pemain muda Johann Vonlanthen, 18 tahun, yang bermain di PSV Eindhoven bisa menjadi alternatif pilihan.
Di lini tengah, Kuhn akan kembali memasang Johann Vogel, yang mendapat kartu merah pada pertandingan pertama. Fabio Celestini juga mungkin akan diturunkan setelah absen karena cedera tumit. Gelandang gesit Ricardo Cabana juga bisa dipasang di sektor kanan. Vogel tetap optimistis meski Prancis tak terkalahkan dalam 20 pertandingan terakhir. "Prancis tidak sehebat yang dibayangkan. Mungkin tidak segarang beberapa tahun lalu. Peluang kami masih ada," kata Vogel. l
Topik :



Komentar Anda :