Henrikus Gelisah
Senin, 21 Juni 2004 | 12:26 WIB
Berbaju kaus oranye, berselendangkan bendera tiga warna; merah-putih-biru, Henrikus menaiki bus di pinggir Stadion Municipal, Aveiro, dengan langkah gontai. Di belakang, tiga rekannya, seorang di antaranya perempuan, mengikuti dengan gaya tak jauh beda.
Tak ada lagi teriakan-teriakan Henrikus dan kawan-kawannya yang sempat mengguncang stadion beberapa saat sebelumnya. Satu di antara rekannya itu bahkan tak bisa menyimpan kegeraman. Wajahnya merah, matanya juga.
"Pelatih bodoh. Kami takkan kalah kalau dia tak melakukan pergantian pemain seperti yang diperbuatnya," kata Henrikus.
Pantas Henrikus kesal. Datang jauh-jauh dari Rotterdam, dia harus meninggalkan pekerjaannya untuk sementara agar bisa memberikan dukungan buat tim kebanggaannya. Tapi apa yang dia dapatkan dalam lima hari terakhir ini hanyalah kekecewaan. Belanda belum juga berhasil memetik satu kemenangan pun.
Henrikus tak habis pikir bagaimana sang pelatih menarik keluar Arjen Robben dan memasukkan Paul Bosvelt. Kalau alasannya untuk mempertahankan keunggulan, bukankah Bosvelt juga tak memberikan kontribusi positif saat bertahan. Dia juga kecewa karena Dick Advocaat pun memasukkan Rafael van der Vaart, pemain yang, menurut Henrikus, mengecewakan ketika menghadapi Jerman.
"Ah, mudah-mudahan saja Ceko masih memiliki sportivitas. Kalau tidak, kami akan tersingkir lebih awal," kata rekannya, yang berwajah dan mata merah itu.
Di Stasiun Kereta Api Aveiro, tengah malam itu, Henrikus dan kawan-kawan menemukan habitatnya. Di sana, sudah menunggu para pendukung Belanda lainnya yang hendak meninggalkan Aveiro. Ada yang ke Porto, Lisabon, atau Coimbra, kota terdekat di sebelah selatan Coimbra.
Tak satu pun di antara mereka yang berwajah biasa, apalagi gembira. Semua tertelan dalam duka. Di bangku-bangku ruang tunggu, mereka duduk dengan wajah ditekuk. Tak peduli anak-anak, remaja, dewasa, atau pendukung yang sudah lanjut usia. Tak peduli laki-laki atau wanita.
Sebagian di antaranya bahkan duduk di lantai ruang tunggu, sambil menarik isapan rokok dalam-dalam, atau menelan bir Portugal berkadar alkohol rendah.
Ketika serombongan pendukung Ceko berpapasan dan menyapa sambil berteriak, mereka hanya bisa tersenyum masam.
Di atas kereta api tambahan yang membawanya ke Lisabon, Henrikus tetap tak bisa menyembunyikan kegundahannya. Ditenggaknya sebotol bir. Satu jajaran kursi penumpang dikuasainya. Kedua tungkainya yang dibalut celana pendek dan sepatu tanpa kaus kaki, diselonjorkannya di atas bangku.
Boleh jadi, Henrikus saat itu sedang merenungkan kembali harapannya. Mudah-mudahan Ceko tak memberi kemenangan begitu saja buat Jerman. Kalau itu yang terjadi, Henrikus harus siap-siap segera meninggalkan Portugal, kembali ke Rotterdam, dan berkutat dengan tugas sehari-harinya. Ya, mudah-mudahan sportivitas masih ada.
Topik :



Komentar Anda :