DENMARK VS SWEDIA

Selasa, 22 Juni 2004 | 09:51 WIB

Penentu Nasib Italia

PORTO-Pertemuan dua tim asal Skandinavia, Denmark dan Swedia, akan menyajikan pertandingan menarik. Denmark yang mengandalkan permainan dari sayap akan bertemu dengan Swedia yang memiliki ujung tombak paling subur di Stadion Bessa, Porto, Rabu (23/6) dini hari. Hasil pertandingan terakhir Grup C ini juga akan menentukan langkah tim 'Azzurri' Italia ke babak perempat final.

Denmark dan Swedia sebenarnya hanya butuh hasil imbang minimal 2-2 untuk lolos ke perempat final. Jika mereka main mata, maka Italia akan tersingkir meski dalam pertandingan terakhir menang atas Bulgaria. Swedia masih memimpin Grup C dengan nilai empat diikuti Denmark dengan nilai sama. Italia membuntuti di tempat ketiga dengan nilai dua.

Italia sangat khawatir Denmark dan Swedia melakukan konspirasi untuk menyingkirkan mereka. Tapi, menurut Henrik Larsson, kekhawatiran itu tak beralasan. "Kami akan berusaha bermain bagus untuk memenangkan pertandingan," katanya.

Begitu khawatirnya bakal terjadi konspirasi, gelandang Italia Gennaro Gattuso sempat mengusulkan agar panitia memasang 50 kamera ekstra untuk mendeteksi setiap gerakan untuk memastikan tidak ada kecurangan dalam pertandingan itu.

Pelatih Swedia, Lars Lagerback, juga menjamin tidak akan ada pengaturan skor dalam pertandingan itu. Menurutnya, perbuatan seperti itu sama jahatnya dengan meludahi pemain lawan seperti dilakukan oleh pemain Italia, Francesco Totti. "Memaksakan hasil imbang bukan fair play," katanya. "Kami tidak akan mengatur pertandingan berakhir 2-2. Anda tidak bisa membuat kesepakatan seperti itu," katanya.

Konspirasi, memang, bisa menjadi bumerang. Sebab, jika Italia bisa menang besar maka Denmark bisa tersingkir jika memaksakan hasil imbang. Tak heran jika Denmark akan mati-matian untuk memenangkan pertandingan. Bagi Denmark, kalah berarti malapetaka "Di Piala Eropa tidak ada istilah kawan dan kami tidak mau ambil risiko," kata gelandang Denmark, Thomas Gravesen.

Swedia mengkhawatirkan dua pemain sayap Denmark, Jesper Gronkjaer dan Martin Joergensen. Gerakan kedua pemain itu sulit ditebak. Mereka sering bertukar tempat untuk mengobrak-abrik pertahanan lawan. Mereka bermain bagus ketika Denmark menahan Italia 0-0 dalam pertandingan sebelumnya.

Swedia cukup serius menghadapi pertandingan menentukan ini. Mereka sampai menugaskan seorang pengintai, Benny Lennartsson, untuk mengintip kekuatan Denmark. Menurut Lennartsson, Denmark adalah tim terbaik di Grup C. "Denmark sangat berbahaya dengan Gronkjaer dan Joergensen. Kami khawatir dengan pergeseran mereka di lapangan," kata Lennartsson.

Lennartsson menilai, permainan kedua pemain itu tak mewakili gaya permainan tim-tim Skandinavia pada umumnya. "Saya tidak melihat ada pemain sayap yang lebih baik dari mereka di turnamen ini, disamping ada duet Spanyol, Vicente dan (Joseba) Etxeberria," katanya.

Lennartsson mengingatkan, salah satu pemain Denmark yang harus diwaspadai adalah Thomas Gravesen. Gelandang klub Everton (Inggris) itu sangat berbahaya di lini tengah. "Dia penjegal yang bagus. Umpannya juga akurat. Dia bisa memotivasi teman-temannya. Dia pemimpin yang bagus di lapangan," ujar Lennartsson.

Namun, Swedia masih yakin dengan kemampuan duet ujung tombaknya, Henrik Larsson dan Zlatan Ibrahimovic, yang masing-masing sudah mengemas dua gol. Ibrahimovic, kata Lennartsson, bisa melakukan hal-hal tak terduga. "Zlatan bisa mencetak gol seperti striker Belanda, Ruud van Nistelrooy. Saya tidak melihat itu di tim Denmark," katanya.

Dengan masih absennya Teddy Lucic, Swedia kemungkinan aka turun dengan formasi yang sama ketika menahan Italia 1-1 dalam pertandingan sebelumnya. Lucic menderita cedera dada pada babak pertama saat melawan Bulgaria dalam pertandingan pertama. Ia mungkin akan digantikan oleh Mikael Nilsson. "Peluangnya 50-50," kata dokter tim Magnus Forssbald. "Dalam cedera seperti ini rasa sakit bisa tiba-tiba muncul. Kami berharap dia cepat sembuh," kata Forssbald.

Kubu Denmark yakin bakal memenangkan pertandingan. Striker Ebbe Sand yakin timnya punya kualitas untuk mengalahkan Swedia. "Saya tidak melihat ada perbedaan yang besar antara Swedia dan Bulgaria. Saya yakin kami mengalahkan mereka (Swedia). Tim kami lebih bagus," kata Sand.

Kedua tim sudah 97 kali bertemu sejak 1913 dan Swedia punya rekor kemenangan lebih baik, yaitu 45 kali menang. Denmark 36 kali menang, sedangkan 16 pertandingan lainnya berakhir imbang. Di Piala Eropa, Swedia pernah mengalahkan Denmark di babak penyisihan grup pada 1992, meski akhirnya Denmark keluar sebagai juara.






Komentar Anda

Kirim