Para Tifosi Beri Sambutan 'Hangat' untuk Tim Italia

Jum'at, 25 Juni 2004 | 09:45 WIB

LISABON -- Tiga raksasa Eropa harus menghadapi kenyataan pahit, tereliminasi di putaran pertama Euro 2004 ini. Siapa pun pasti tidak berani memprakirakan Italia, Spanyol, dan Jerman bakal tersingkir di babak penyisihan. Namun, itulah yang terjadi, mereka dipaksa pulang lebih cepat oleh tim-tim yang di atas kertas masih jauh di bawah level mereka.

Italia, yang memburu trofi pertamanya sejak Piala Dunia 1982, disingkirkan oleh duet Skandinavia, Swedia dan Denmark. Dari tiga pertandingan penyisihan, mereka hanya meraih nilai 5, hasil dua kali seri dan sekali menang atas Bulgaria.

Spanyol sebenarnya bermain cantik, tetapi pemain kelas dunia yang mereka miliki benar-benar lemas di depan gawang. Mereka pun akhirnya tersingkir setelah dikalahkan untuk pertama kalinya oleh Portugal di kompetisi resmi.

Tim raksasa terakhir yang menangis adalah Jerman. Finalis Piala Dunia 2002 ini gagal melaju ke babak perempat final setelah dikalahkan tim "B" Republik Ceko. Kekalahan Jerman ini membuka jalan bagi tim raksasa lainnya, Belanda, untuk maju.

Ketika pelatih Italia masih kebingungan menyangkut masa depannya, pelatih Jerman Rudi Voeller dan Inaki Saez dari Spanyol mengundurkan diri.

Sementara itu, para tifosi yang tidak bisa menerima kekalahan Italia menyambut kepulangan tim Azzurri itu dengan "hangat" begitu mereka mendarat di Bandara Leonardo da Vinci, demikian dilaporkan AP dari Roma.

Mengetahui bakal mendapat sambutan yang tidak menyenangkan, sejumlah pemain terpaksa menghindari massa yang marah. Beberapa pemain yang berani menghadapi pendukungnya harus mendapat kawalan ketat dari polisi.

Para pemain tim Azzurri kembali dari Portugal kemarin malam, sehari setelah mereka tersingkir. Beberapa pemain turun di Milan, dan sebagian lagi di Roma. Bek AS Roma, Christian Panucci, dan penyerang Lazio, Bernardo Corradi, harus mendapat pengawalan begitu memasuki ruang kedatangan yang sudah dipenuhi puluhan pendukung yang terus berteriak dan mengacungkan kepalan tangannya.

Playmaker Francesco Totti, yang mendapat hukuman larangan tiga kali main karena meludahi pemain Denmark, diselundupkan melalui jalan lain oleh polisi.

Di Milan, sambutan tidak kalah galaknya. Namun, hanya bek AC Milan, Alessandro Nesta, yang sempat menghadapi massa. Para pemain lain dan pelatih Giovanni Trapattoni keluar dari pintu belakang untuk menghindari para tifosi.

Euro 2004 juga kembali mencatat munculnya tim kuda hitam. Yunani membuat sejarah dengan melaju ke babak perempat final untuk pertama kalinya setelah mengalahkan tuan rumah Portugal serta menahan Spanyol dan Rusia.

Itulah sepak bola. Sukses sebuah tim tidak selamanya hanya ditentukan oleh individu pemain. Kekompakan dan kerja sama kadang-kadang bisa lebih banyak bicara.

Zulfirman dari Lisabon

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :