BOM-DIA

Jum'at, 25 Juni 2004 | 09:51 WIB

Ketika pertama kali diputuskan menjadi tuan rumah Piala Eropa 2004, bayangan seperti ini muncul di benak pemerintah Portugal: penonton banyak yang datang, membelanjakan uangnya sekaligus mengangkat ekonomi masyarakat bisnis setempat. Salah satu yang diharapkan adalah meningkatnya angka penjualan produk-produk lokal Portugal sendiri.

Tapi, apa yang mereka dapatkan setelah Piala Eropa sudah selesai setengah jalan? "Lebih baik semuanya ini berakhir dan kami kembali ke masa-masa yang normal," kata Antonio Lemos, pemilik toko penjual anggur, Casa Perreira.

Ada apa sesungguhnya. Angka kedatangan di tiga bandara utama Portugal, Lisabon, Porto, dan Faro, memang melonjak tajam. Di jalanan kota-kota utama Portugal, gerombolan pendukung sepak bola menjadi hal yang sangat biasa.

Tapi soal mengubah kebiasaan yang bisa menguntungkan industri domestik, nanti dulu. Di pusat kota Lisabon, para suporter itu memang memenuhi restoran, bar, maupun toko-toko kue dan makanan kecil. Tapi tidak bagi restoran dan toko-toko yang menjual sesuatu bercita rasa Portugal.

"Mereka hanya berkumpul di perempatan. Mereka tak mau datang ke sini. Mereka mencari bir, air, dan minuman-minuman lain yang lebih menyegarkan dan dingin dibanding anggur," kata Lemos pula.

Di kedai Cervejaria da Trinidade, seorang pelayan kedai minuman bernama Joaquin Santos juga merasakan hal yang sama. Katanya, ada atau tak ada Piala Eropa tak berpengaruh besar. Ketika Piala Eropa tak sedang berlangsung, kedainya masih tetap dikunjungi wisatawan yang kagum dengan interiornya.

"Sayangnya kami tak memiliki pesawat televisi. Jadi, ketika pertandingan berlangsung, kedai kami sedikit sepi," tuturnya lagi.

Menurutnya, kalaupun kedainya masih mendapatkan pelanggan, itu bukan karena Piala Eropa. Itu lebih banyak disebabkan promosi yang mereka lakukan.
"Kami ada di buku guide. Kami biasanya didatangi grup-grup wisatawan dalam jumlah besar. Tapi kebanyakan pengunjung kini lari ke bar-bar yang menyediakan televisi," katanya.

Yang sedikit bisa bernafas adalah toko-toko buku yang menyediakan buku petunjuk tentang Portugal. Juga kios-kios koran dan surat kabar yang tak hanya menyediakan bacaan dalam bahasa Portugis. Carlos Simoes yang bekerja di sebuah toko buku di Rossio, Lisabon, menyebutkan peta, buku petunjuk, dan bahkan buku-buku resep masakan tradisional Portugal menjadi incaran pengunjungnya.

Tapi, itu tetap saja tak cukup sebagai kompensasi atas berkurangnya pelanggan selama aktivitas Piala Eropa.
"Tingkat penjualan tak terlalu bagus selama Piala Eropa. Mereka membeli tiket pertandingan. Kami juga sedang menggelar (festival musik) Rock in Rio. Jadi, orang-orang membelanjakan uangnya untuk membeli tiket event-event tersebut. Uang untuk membeli buku sudah tak ada lagi," katanya.






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: