Yunani Siap Kejutkan Prancis
Jum'at, 25 Juni 2004 | 09:56 WIB
LISABON-Yunani siap membuat kejutan. Setelah menjungkalkan tuan rumah Portugal dan menahan imbang Spanyol dalam babak penyisihan grup, Yunani menantang juara bertahan Prancis pada babak perempat final di Stadion Jose Alvalade, Lisabon, Sabtu (26/6) dini hari.
Yunani akan memanfaatkan minimnya pengetahuan kubu Prancis akan permainan mereka. Rata-rata pemain Prancis juga tak mengenal pemain Yunani yang sebagian besar bermain di liga lokal. Dari 23 pemain yang dibawa pelatih Otto Rehhagel, hanya delapan yang merumput di klub luar negeri.
"Prancis adalah tim favorit, tapi seperti halnya semua tim, kami tetap punya peluang," ujar gelandang Vassilios Tsiartas. "Dengan sistem gugur, pertandingan bisa berakhir dalam 90 menit, 120 menit, atau harus melalui adu penalti. Jadi, apa pun bisa terjadi," katanya.
Keyakinan Tsiartas itu didasarkan pada kenyataan bahwa kesenjangan antara tim kuat dan lemah sudah tak selebar dulu. Tim-tim bukan unggulan sudah bisa mengimbangi tim unggulan. "Tim favorit harus mempertahankan gelarnya di tengah ancaman tim-tim kuda hitam," ujar Tsiartas.
Sebelumnya Yunani tidak diperhitungkan sampai mereka mengalahkan tuan rumah Portugal 2-1 dalam pertandingan pembukaan di Stadion Dragao, Porto, 12 Juni lalu. Ini adalah untuk pertama kalinya pasukan Rehhagel itu melaju ke babak perempat final Piala Eropa.
"Kami datang ke sini untuk mengenalkan sepak bola kami. Juga mengenalkan tim dan pemain kepada publik sepak bola Eropa," kata kiper Antonis Nikopolidis. "Di lain pihak kami sangat mengenal Prancis. Kami tahu mereka adalah tim favorit dan kami juga tahu karakteristik khusus mereka," katanya.
Namun, ada sedikit persoalan yang menghadang Rehhagel. Yunani bakal kehilangan gelandang Stelios Giannakopoulos yang cedera, striker Zisis Vryzas mendapat hukuman dua kartu kuning, sedangkan gelandang Traianos Dellas hanya berlatih ringan karena masih cedera.
Rehhagel merasa sangat terhormat punya kesempatan bertemu Prancis di turnamen besar ini. Selama ini Yunani tidak bisa bertanding dengan tim sebesar Prancis di pertandingan persahabatan. "Melaksanakan pertandingan persahabatan sangat mahal," katanya.
Dua hari menjelang pertandingan para pemain Yunani hanya berlatih ringan. Mereka datang ke lapangan dengan bus yang didndingnya diberi tulisan "Yunani kuno punya 12 dewa. Yunani modern punya 11." Keberhasilan Yunani lolos ke perempat final juga membawa berkah untuk para pemain. Pemerintah Yunani sudah menyiapkan bonus satu juta euro (sekitar Rp 11,4 miliar).
Yunani juga akan mendapat dukungan dari sekitar 6.000 penonton yang dikerahkan oleh Federasi Sepak Bola Yunani. "Kami baru saja mendapat jatah 6.000 tiket untuk pertandingan itu," ujar anggota dewan Federasi Sepak Bola Yunani, Theodoros Theodoridis.
Theodoridis menambahkan, permintaan tiket meningkat dibanding pertandingan sebelumnya. Saat Yunani menghadapi Rusia, hanya sekitar 1.200 warga Yunani yang menyaksikan pertandingan itu.
Pelatih Prancis, Jacques Santini, sadar bahwa Yunani tak bisa dipandang sebelah mata. Semua pemainnya harus memperhatikan dengan sesksama kekuatan Yunani. "Para pemain harus lebih berkonsentrasi melawan Yunani. Mungkin tidak seperti yang kami perkirakan, tetapi pertandingan akan berat," kata Santini.
Penampilan cemerlang Thierry Henry saat menjaringkan dua gol ke gawang Swiss menghapus kekhawatiran Santini. Namun, lini belakang Prancis masih mengkhawatirkan. Prancis kebobolan empat gol dalam tiga pertandingan meski mampu menjaringkan tujuh gol.
Menjelang pertandingan, Santini harus kehilangan bek kanan Willy Sagnol yang patah lengan. William Gallas juga masih berkutat dengan cedera engkel. Ia tak terlihat dalam latihan tim, Rabu (23/6). Sementara itu, Marcel Desailly dan Bixente Lizarazu sudah tidak segesit empat tahun lalu ketika Prancis menjadi juara. Namun, secara mental pengalaman mereka akan sangat membantu menghadapi para pemain Yunani yang minim pengalaman internasional.
Lini tengah Prancis juga terancam. Gelandang bertahan Patrick Vieira tak tampil dalam latihan, Rabu. Otot paha Vieira tertarik ketika Prancis mengalahkan Swiss 3-1. Seorang ofisial tim Prancis mengatakan, pelatih dan tim dokter akan melihat perkembangan mereka sampai menit-menit terakhir menjelang pertandingan.
Jika Vieira tak kunjung pulih Olivier Dacourt bisa mengisi posisinya. Kalau Gallas tak tampil, Santini mungkin akan memasang kembali Desailly sebagai palang pintu. Namun, ini akan menjadi titik lemah Prancis seperti ketika ditahan imbang 2-2 oleh Kroasia di penyisihan grup. l
Topik :



Komentar Anda :