Eriksson dan Korban Euro
Selasa, 29 Juni 2004 | 09:58 WIB
Tiga pelatih sudah jadi korban keganasan Piala Eropa 2004. Tapi, korban pertama itu sewajarnya adalah Sven Goran Eriksson. Prestasi yang dipersembahkannya untuk The Three Lions tak sepadan dengan bayarannya yang selangit.
Saat ini, praktis tak ada yang menggoyang posisi Eriksson sebagai pelatih tim nasional Inggris. Padahal, siapa yang berani menyebut dia sukses menangani tim? Gagal di perempat final Piala Dunia 2002 dan rontok di babak yang sama pada Piala Eropa 2004.
Selain itu, penampilan Inggris tidaklah bisa disebut mengesankan. Tak pernah mereka tampil meyakinkan di Portugal. Kalah dari Prancis, rontok di tangan Portugal.
Dalam pandangan bekas striker tim nasional Inggris, Gary Lineker, Eriksson tak punya strategi lain jika rencana yang dipasangnya gagal di lapangan. Itu dilihatnya langsung saat Inggris dikalahkan Portugal lewat adu penalti.
"Dia punya rencana A, tapi tak punya rencana B. Rencana A adalah membiarkan Wayne Rooney main sesuai gayanya, mengisi ruang di antara penyerang dan gelandang, sekaligus mencetak gol. Ketika Rooney keluar, tak ada penghubung ke lini depan. Itulah kesalahannya," kata Lineker.
Padahal, Inggris mengeluarkan dana tak sedikit untuk membayar Eriksson. Di Portugal, pelatih asal Swedia itu adalah pelatih dengan bayaran paling tinggi. Tak kurang dari 4 juta pound diterimanya selama setahun. Angka itu bahkan masih lebih tinggi jika bayaran empat pelatih tim yang lolos ke semifinal digabungkan.
Karel Bruckner, pelatih Republik Ceko, hanya menerima bayaran 70 ribu pound setahun. Belanda hanya membayar pelatih Dick Advocaat sebesar 335 ribu pound untuk 12 bulan. Angka yang diterima Otto Rehhagel dari Asosiasi Sepak Bola Yunani hanyalah 490 ribu pound setahun. Yang lebih baik adalah Luiz Felipe Scolari. Portugal membayarnya 1,1 juta pound setahun. Tapi, angka-angka itu masih jauh di bawah Eriksson, bahkan jika dikumpulkan sekalipun.
Di antara lima besar pelatih yang menerima gaji tertinggi, Eriksson memang termasuk paling aman. Scolari bukan tak mendapat kecaman ketika Portugal kalah di pertandingan pertama lawan Yunani. Sebelumnya, kecaman bertubi-tubi juga dialaminya saat gagal dalam uji coba.
Semua itu menyiratkan, jika saja Scolari gagal mempertahankan Portugal di babak penyisihan grup, bukan tak mungkin dia langsung ditendang. Tapi kini Portugal maju ke semifinal. Scolari pun berniat memperpanjang kontraknya.
Yang apes tentu saja Rudi Voeller, Giovanni Trapattoni, dan Inaki Saez. Ketiganya, tak seperti Eriksson, langsung bertumbangan. Padahal, gaji mereka tak setinggi Eriksson. Voeller hanya menerima 1,9 juta pound setahun. Trapattoni sama seperti Scolari, 1,1 juta pound. Saez bahkan jauh lebih rendah, hanya 650 ribu pound.
Tapi, ketika ketiganya langsung dipecat atau minta berhenti begitu gagal di Piala Eropa, tak demikian halnya dengan Eriksson. Pelatih asal Swedia itu masih aman-aman saja di singgasana kekuasaannya. Dia bahkan sudah bersiap pula menghadapi kualifikasi Piala Dunia 2006, tentu saja dengan bayaran yang selangit.
Zulfirman, Wartawan Koran Tempo
Topik :



Komentar Anda :