Jangan Kurangi Nilai Sukses Yunani
Selasa, 06 Juli 2004 | 10:21 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: "Michael Hidalgo, Michel Platini, Eusebio. Ya, Eusebio. Dengar dan lihatlah, tim kalian sudah kalah". Sekitar 23 tahun yang lalu, seorang komentator radio di Norwegia, melontarkan pernyataan yang kemudian sangat terkenal itu.
Dia tak kuasa menahan emosinya saat melaporkan Norwegia menaklukkan Inggris pada sebuah pertandingan. Maka disebutnya nama seluruh orang besar Inggris, dari Winston Churchil hingga Margaret Thatcher, mengabarkan bahwa Inggris sudah kalah.
Sebelum partai final Piala Eropa 2004 berlangsung, baik Hidalgo, Platini, hingga Eusebio memang mengunggulkan Portugal akan menang. Platini, bintang yang membawa Prancis menjuarai Piala Eropa 1994 bahkan praktis tak menghitung Yunani sama sekali. Dia menyatakan yang pantas ke final adalah Portugal dan Republik Ceko.
Entah dimana Platini menyaksikan partai final kali ini. Sangat mungkin dia ada di tribun kehormatan karena posisinya sebagai anggota Komite Eksekutif UEFA. Tapi dimanapun dia berada, dia harusnya kini menyadari bahwa menjadi favorit saja bukanlah modal yang cukup untuk menjadi juara.
Yunani bukan satu-satunya tim yang membuktikan hal ini. Di ajang yang sama, 12 tahun lalu, Denmark melakukan hal yang sama. Di Piala Dunia, Jerman Barat bahkan sudah mewujudkannya pada Piala Dunia 1954 dengan mengalahkan Hungaria yang memiliki generasi Magyar Magnicifent itu.
Maka, harusnya kini tak ada lagi pertanyaan; pantaskah Yunani menjuarai Piala Eropa? Jangan lagi ragukan kemampuan mereka. Faktanya, Yunani sudah menaklukkan tim-tim terbaik yang semula pantas diunggulkan. Portugal dua kali mereka kalahkan. Juara bertahan Prancis pun tersungkur di hadapan mereka. Republik Ceko, salah satu tim yang impresif sepanjang Piala Eropa pun tak berdaya menghadapi Yunani.
Dari segi penampilan, Yunani memang bukan tim yang asyik buat ditonton. Mereka bukanlah tim dengan tipikal attacking football murni. Mereka bahkan cenderung mengandalkan kekuatan pada pertahanan yang ketat. Tapi, sebuah pertahanan ketat, adalah bagian dari bangunan tim sepak bola itu sendiri.
Lihatlah bagaimana Brasil pada Piala Dunia 1982 dan 1986. Siapa yang tak menjagokan mereka tampil sebagai juara. Di sana ada Zico, Falcao, Socrates, Eder, dan sebagainya. Tapi, karena tak memiliki pertahanan kuat, mereka gagal.
Banyak pula yang meragukan sukses Italia ketika menjuarai Piala Dunia 1982 di Spanyol. Mereka dibilang hanya bisa bertahan. Tapi, bukankah catenaccio juga bagian dari sepak bola.
Sepak bola memang memiliki banyak sisi. Dua di antaranya memiliki kepentingan yang berbeda. Yang satu menjadi arena menghibur penonton, satu lainnya lebih mementingkan kemenangan. Yang sempurna tentu saja memadukan keduanya, seperti yang ditunjukkan Brasil di era Pele dan kawan-kawan atau bahkan tatkala mereka menjuarai Piala Dunia dua tahun lalu.
Tapi, kalau keduanya tak bisa jalan bersama, maka harus ada pilihan. Tak banyak yang memilih permainan cantik menghibur penonton. Rata-rata tim lebih mementingkan kemenangan. Itu pulalah yang jadi pilihan Yunani.
Sepanjang Piala Eropa, tak pernah sekalipun kita menyaksikan penampilan cantik dari Yunani. Tapi, hampir selalu mereka tampil efektif. Kapan saat yang tepat melakukan serangan di saat mereka nyaris selalu mendapat tekanan.
Yunani tak bisa disalahkan karena itu. Juga tidak Otto Rehhagel, sang pelatih. Rehhagel sadar, tak mungkin bagi dirinya memainkan sepak bola menyerang yang indah. Lagi pula, permainan indah bukan tipikalnya. Dengan materi yang ada saat ini, cara terbaik meramu Yunani adalah dengan permainan efektif itu.
Yunani mampu memainkan peran itu nyaris sempurna. Hanya sekali mereka kalah, itu pun ketika posisinya ke perempat final sudah cukup aman. Mereka menyerah dari Rusia 1-2. Tapi, mereka mampu melindas Portugal, Prancis, dan Republik Ceko.
Karena itu, hemat saya, tidaklah pada tempatnya mengurangi arti sukses Yunani merebut Piala Eropa kali ini hanya karena penampilan mereka jauh dari menggiurkan. Sukses Yunani harus dilihat sebagai sebuah keberhasilan menggali manfaat maksimal yang ada dalam sebuah tim dan mewujudkannya di lapangan. Di satu sisi, Yunani sukses melakukannya.
Topik :



Komentar Anda :