Masih Ada Pesta di Portugal

Selasa, 06 Juli 2004 | 10:29 WIB

TEMPO Interaktif, Lisabon:Mereka tak lantas murung, apalagi marah dan merusak. Para suporter Portugal tetap memilih berpesta, meski timnya kalah 0-1 dari Yunani dalam partai final Euro 2004 di Stadion Luz Portugal, Senin dini hari.

Usai pertandingan itu ratusan orang tetap berkumpul di pusat kota Lisabon. Mereka menabuh drum, mengibar-kibarkan bendera, dan bernyanyi bersama-sama.

"Kekalahan ini sangat menyedihkan. Tapi para pemain sudah memberi kami kegembiraan. Kami harus menunjukkan apa pun hasilnya kami tetap mencintai mereka," kata Ana, 27 tahun, yang terselip di antara ratusan orang yang menonton pertandingan dari televisi raksasa di pinggir sungai.

Setelah pluit tanda berakhirnya pertandingan berbunyi, memang sempat ada keheningan. Ada kabut sedih menghiasi wajah-wajah para suporter itu. Ada juga air mata yang meleleh. Tapi hanya sebentar. Setelah itu mereka lantas bergembira, menari dan bernyanyi.

"Meski kalah kami masih bangga dengan mereka. Ini lah penampilan terbaik tim Portugal di turnamen besar," kata Bruno, 32 tahun.

Kesuksesan melaju ke final memang merupakan yang pertama kali bagi Portugal. Selama ini penampilan terbaik mereka di Euro adalah semifinal. Kali ini, sebagai tuan rumah,
mereka pun berharap banyak bisa mencetak hasil gemilang. Tetapi di pertandingan itu, sebuah gol dari Angelos Charisteas di menit ke-57 menghancurkan segalanya.

Pelatih Luiz Felipe Scolari mengakui kekalahan timnya sangat susah untuk diterima di tengah tingginya harapan dari masyarakat.

"Sangat menyakitkan kalah dengan cara ini. Atas nama seluruh tim saya meminta maaf pada masyarakat Portugal karena gagal memberi kegembiraan final," katanya.
Kegagalan Portugal membuat Scolari gagal meraih rekor menjadi pelatih yang mengantar tim asuhannya jadi Juara Dunia dan Eropa. Sebelumnya dia sudah berhasil membawa Brasil jadi juara Piala Dunia 2002.

Scolari menilai, Yunani menang karena mereka memiliki pertahanan yang kokoh. "Mereka menang karena bertahan dengan sangat baik. Inilah pertama kalinya tim saya gagal membuat gol," katanya.

Dinding pertahanan yang dibangun Yunani, menurut Scolari, membuat penyerangnya tak berdaya. "Permainan mereka sama. Tapi mereka memiliki banyak pemain yang berkarakter dan mereka pun berhasil menang. Jadi selamat buat mereka," katanya.

Pemain Portugal menuding Yunani menjadi juara dengan permainan yang buruk. "Sangat disayangkan bahwa tim yang tak memiliki apapun kecuali pertahanan menjadi juara Eropa," kata penyerang Pauleta.

Menurut dia, permainan bertahan total yang ditunjukkan Yunani adalah cara yang tak enak dilihat. "Tapi tampaknya mereka (Yunani) sangat menikmatinya," tudingnya.

Gelandang Maniche mengakui permainan Yunani yang tidak cantik itu lebih efektif dari pola menyerang timnya. "Mereka bertahan sangat baik. Kami pun gagal menyarangkan gol yang biasanya selalu kami cetak dalam pertandingan lain. Mereka menang dan kami harus menyelamati mereka," kata gelandang FC Porto ini.

Cristiano Ronaldo juga menyelamati Yunani. "Kami bermain lebih baik dari mereka. Tapi akhirnya mereka yang perlu diselamati karena berhasil memanfaatkan kesempatan," katanya.

Kiper Ricardo mengatakan timnya sebenarnya sudah merasakan efektifnya permainan Yunani saat dikalahkan 1-2 di pertandingan pembukaan. "Kami sudah tahu bagaimana harus menghadapinya tapi di lapangan ternyata semuanya tak jalan," katanya.

Meski kalah, bek Jorge Andrade berkeras bahwa timnya layak bangga dengan penampilan sepanjang turnamen ini, terbukti keberhasilan melaju ke final untuk pertama kalinya.

"Kami sudah melakukan kerja yang bagus di sini. Hari ini Yunani mampu menunjukkan bahwa secara taktik mereka lebih baik. Mereka bertahan dengan banyak pemain dan cukup beruntung dengan satu gol," katanya.

Kapten tim Luis Figo mengaku susah menjelaskan perasaannya. "Apa yang saya rasakan saat ini susah dijelaskan, tetapi saya bangga dengan apa yang sudah ditampilkan Portugal," kata pemain yang masih belum memutuskan apakah akan pensiun atau tetap bersama tim Portugal di Piala Dunia 2006 ini.






Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: