Gara-gara Sapi Fiktif

Selasa, 02 Februari 2010 | 10:59 WIB

  • Send
  • Print
Ikuti Survey Majalah Tempo 2011
Dapatkan Majalah Digital Tempo untuk iPad anda. Download di Apple apps store atau klik disini

Komentar (4)

    0       0

    Negatifnya!, apapun isue pernyataan yang "dilemparkan" ke tengah masyarakat plus "bumbu-bumbu" politisnya langsung saja dianggap benar. Ujung-ujungnya isue tersebut menjadi semacam "kampanye" pembenaran; yang kadang kita masyarakat "bengong" saja. Antara yang "aktual" atau "fitnah" menjadi kabur, yang penting "isue" sudah "(di)lempar(kan) ..., sembunyi tangan". Ha! ... ha! ... ha!

    0       0

    Kredit fiktif, kuitansi fiktif, barang fiktif, sapi fiktif, jangan-jangan negaraku negara fiktif? Aku ingin sejahtera tapi bukan yg fiktif. Dimanakah?

    0       0

    Biar KPK yg sdh punya kredibilitas menetapkan BC bersalah menjarah uang rakyat milyar tidak. Kalau tidak yaa harus dibebaskan/direhabilitasi. Tapi kalau benar terbukti secara yuridis menjarah/ merampok uang rakyat, yaa lebih baik pejabat macam ini harus diHUKUM MATI. Pejabat (apalagi yg mengaku beragama) sampai menjarah uang rakyat yg masih dalam kelaparan, sebaiknya dikirim ke Nusakambangan atau di Sukabumikan saja.

    0       0

    Dugaan saya pak BC korban dari bawahan yang selama ini biasa bermain dalam pengadaan barang. Beliau tipe orang alim yang husnuzon sama orang. Cuma herannya kok KPK langsung menetapkan BC sebagai tersangka, padahal dlm kasus ini terjadinya kerugian negara akibat kesalahan teknis penetapan harga oleh Pimpro dan Panitia Pengadaan, serta permainan Rekanan yang mengadakan. Tapi memang pada akhirnya BC juga ikut terseret akibat penetapan kebijakan PL yang salah. Terlepas dari itu, saya pribadi merasa prihatin d sedih, sebab saya nilai BC sosok pemimpin yg peduli sama orang kecil.


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan