close

Presiden Diminta Lebih Tegas  

Selasa, 24 November 2009 | 09:16 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Sejumlah kalangan menyambut baik sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang meminta penghentian proses hukum kasus Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah. Namun, mereka juga meminta Presiden bersikap lebih tegas.

"Kami mengapresiasi sikap Presiden," kata pelaksana tugas pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsio, Tumpak H. Panggabean, di kantornya, Senin (23/11) malam.

Tadi malam Presiden Yudhoyono mengumumkan sikapnya terhadap rekomendasi Tim Pencari Fakta kasus Bibir-Chandra (Tim 8). Seperti direkomendasikan oleh Tim, Presiden meminta polisi dan jaksa tidak melanjutkan kasus Bibit-Chandra ke pengadilan.

"Solusi dan opsi lain yang lebih baik, yang bisa ditempuh, adalah kepolisian dan kejaksaan tidak membawa kasus ini ke pengadilan," ujar Presiden di istana kepresidenan, Jakarta, tadi malam. "Solusi seperti itu saya nilai lebih banyak manfaat ketimbang mudaratnya."

Sebelumnya, Tim 8 menyarankan tiga opsi penghentian kasus Bibit-Chandra. Pertama, Kepolisian RI bisa mengeluarkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) jika perkaranya masih di kepolisian.

Kedua, jaksa bisa mengeluarkan surat ketetapan penghentian penuntutan (SKPP) jika perkaranya sudah masuk kejaksaan. Ketiga, Kejaksaan Agung bisa mengesampingkan (mendeponir) perkara dengan memakai asas oportunitas; demi kepentingan publik.

Presiden memilih menuerahkan cara penghentisn kasus Bibit-Chandra kepada polisi dan jaksa. "Saya tidak boleh dan tidak akan masuk ke wilayah itu," ujar Presiden.

Presiden pun belum menjelaskan sikapnya soal kesimpulan Tim 8 bahwa penetapan Bibit-Chandra sebagai tersangka dipaksakan karena tak didasari bukti kuat.

Presiden hanya menyebutkan, di masyarakat muncul pro dan kontra atas kasus ini dan munculnya ketidakpercayaan terhadap proses penyeidikan yang dilakukan polisi.

Rekomendasi Tim 8 soal perlunya sanksi bagi aparat yang terlibat merekayasa kasus Bibit-Chndra juga tidak disikapai secara tegas. Presiden hanya menyebutkan perlunya pembenahan dan tindakan korektif di kejaksaan, kepolisian, dan KPK. "Ada masalah di tiga lembaga itu. Itu tak bisa dibiarkan," ujar Yudhoyono.

Kuasa hukum Bibit-Chandra masih menunggu kejelasan sikap Presiden. "Beliau menginginkan perkara dihentikan, tapi solusi yang ditawarkan belum jelas, mengambang," ujar Alexander Lay, salah seorang kuasa hukum Bibit-Chandra.

Kalangan pegiat antikorupsi menyanyangkan sikap Presiden yang mereka anggap tidak tegas. "Memecat Jaksa Agung saja tak berani," ujar Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Usman Hamid.

Koordinator Indonesia Corruption Watch Danang Widoyoko mengatakan hal senada. Sikap tidak tegas Presiden, kata dia, bisa menambah ketidakpercayaan masyarakat. "Kami mempertanyakan apakah beliau masih layak menjabat presiden," ujar Danang.

 

GUNANTO ES l PRAMONO l JAJANG    

  • Share on Facebook

Komentar Anda [11] :

  • Indonesia memang negeri yang tidak tegas

    Indonesia memang negeri yang tidak tegas,religious tapi tidak pernah keluar dari predikat korup,di bentuk KPK tapi tidak di beri kekuasaan penuh,di bentuk negara ,tapi pejabat nya penuh dengan kebohongan dan tidak commit untuk kemajuan bangsa....arah nya ke mana negara Indonesia? bikin negara ya sudah semuanya harus commit, kalau tidak atau setengah - setengah, lebih baik di bubarkan saja, gabung dengan negara lain yang punya martabat

  • Nama baru sang presiden!

    Tahukah anda, Presiden kita sebenarnya punya nama baru yang lebih mendekati kenyataan...
    Tadi beredar di internet membuat saya terbahak-bahak..
    SBY = SusiSlow ngamBang Youdontknow...

  • Tetep muter2..

    di pidato kemaren, tetep aja muter2. Mbok yg jelas dan tegas gitu lo pak. Aku yakin penonton tv kmren jauh lbh banyak drpd saat pak presiden pidato di DPR atau pidato program 100hari, krn jutaan rakyat Indonesia ingin tahu sebrp tegas pemimpin yg dipilih...dan yakin hampir mrk semua merasa sgt kecewa. Buaya2nya mau dikemanain? Apalgi itu cakil sipit pembawa duren...kok gak disenggol. Pdhal ktnya udah mencemarkan nama..?? Kumaha atuh pak..?

  • Sby dalangnya

    Bagi saya jelaslah SBY dalangnya. Sejak awal kasus ini akal sehat dan niat baik tidak ada. SBY, Kapolri dan Jakgung menganggap rekaman rekayasa tidak ada, kasus Bibit-Chandra diteruskan. Pidato mencla-mencle setengah hati semalam sekali lagi tidak menghiraukan rekaman rekayasa. SBY malah melempar lagi penyelesaian yang nggak jelas kepada pihak yang diduga merekayasa. Tidak ada hukuman buat mereka.

  • Nyesel gue ..

    Dari dulu gue dukung SBY karena emang lebih bagus catatannya dari 2 kandidat presiden yg lain ...sayang ternyata baru tahu sekarang pas ada masalah yg membutuhkan ketegasannya sebagai presiden, dianya gak bisa TEGAS, ...Nyesel gue milih dia dulu jadi presiden ..kalo mo mempernaiki diri ..PECAT KAPOLRI dan JAKSA AGUNG sekarang ...

1 2 3
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan