Fabio Renaldo Mencari Kepuasan Batin
Rabu, 08 Oktober 2008 | 08:35 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Niat hati ingin menyenangkan orang tua, ujungnya malah membawa buah manis bagi Raden Fabio Renaldo, desainer muda yang namanya mencuat di bidang desain ramah lingkungan. Hal itu dirasakan pria yang akrab disapa Fabio ini, yang serius menyuarakan kepedulian lingkungan hidup.
Awalnya Fabio ingin menjadi dokter hewan. Namun, impiannya kandas karena orang tuanya tak merestui. "Katanya, jadi dokter hewan nggak bakal kaya," ujarnya sembari tertawa. Guna menyenangkan mereka, dengan setengah hati dia masuk jurusan desain Institut Teknologi Bandung.
Dan, di bangku kuliah, ternyata desain dan dunia lingkungan bisa klop. "Sewaktu kecil saya suka mengawinkan ikan peliharaan. Kepuasan batin saya ada di lingkungan," tutur Fabio saat ditemui Tempo di sela acara Bali Fashion Week 2008 di Garuda Wisnu Kencana, Bali, akhir Agustus lalu. Hobi pria asal Bandung ini memang memelihara binatang.
Apalagi di ITB, Fabio justru menemukan tempat untuk mengembangkan hobi dan bakatnya. Ya, di Fakultas Seni dan Desain ITB itu, bakatnya dalam menggambar mengalir deras. Dia pun leluasa menyalurkan kecintaan atas lingkungan dan binatang. "Saya pilih desain produk. Jadi bisa mendesain produk-produk, terutama yang berkaitan dengan lingkungan dan binatang," paparnya ramah.
Dewi fortuna tetap menaungi Fabio. Setelah lima tahun, dia menyelesaikan studi dengan predikat memuaskan. "Padahal, dari SD hingga SMA, prestasi saya biasa saja," kata pria yang di awal kuliah sempat ingin hengkang ini. Tekadnya berkarya dari dan untuk lingkungan semakin kuat. Dia pun bergabung dengan beberapa organisasi internasional bidang lingkungan hidup.
Beragam program cinta lingkungan dilakoni Fabio. Ilmu selama di bangku kuliah pun dicurahkan. Dia mulai mendesain berbagai produk yang menyuarakan cinta dan ramah lingkungan. Dari pin hingga tas. "Saya pernah membuat tas dari bahan serat oyong," ungkapnya.
Perjalanan Fabio ternyata tak semulus studinya. Awal kariernya mendesain produk-produk ramah lingkungan hanya dipandang sebelah mata oleh khalayak. Bahkan kedua orang tuanya kurang yakin terhadap seluruh karyanya. Toh, semangat dan tekadnya sudah bulat. Dan, semangat itu membuahkan hasil. Nama Fabio di dunia fashion, dalam dan luar negeri, langsung berkibar ketika dia menyabet juara pertama desain Going Green Handbag di ajang Bali Fashion Week 2007. Hasil karyanya pun hijrah ke Hong Kong.
Tas tangan rancangan Fabio yang berbahan dasar limbah PCB (print circuit board) di ajang fashion internasional itulah yang membuat namanya diakui. Prestasi kinclong tersebut kian menguatkan niatnya di jalur eco design. Dia yakin, "Green juga bisa menjadi lifestyle. Bisa menjadi tren. Makanya saya tetap akan berfokus ke situ."
Hal itu dibuktikan Fabio saat kembali meramaikan Ecochic Fashion Show pada awal April lalu dan di ajang Bali Fashion Week 2008. Bahkan dalam waktu dekat, anak ketiga dari empat bersaudara ini bakal membuat perhiasan berbahan dasar PCB. "Saya tetap ingin membuat sesuatu dari limbah menjadi produk yang wearable," tuturnya.
Bagi pria introvert ini, eco design adalah dunianya yang tak tergantikan. Pasalnya, di sinilah dirinya menemukan sesuatu yang melapangkan kreativitas secara luas dan bebas. Fabio menegaskan, "Kuliah butuh bakat, profesi juga demikian. Makanya saya bertahan di bidang desainer meski ujung-ujungnya tetap kembali ke hobi saya, yakni lingkungan. Kalau jadi dokter hewan, saya (mungkin) jadi orang yang kaku."
S Ika Sari
Topik :




Komentar Anda :