Tuntut Direktur Mundur, Perawat Dirikan Tenda di Depan Rumah Sakit
Selasa, 14 April 2009 | 13:59 WIB
TEMPO Interaktif, Bandar Lampung: Sekitar 300-an karyawan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gunungsugih atau Demang Sepulau Raya Kabupaten Lampung Selatan mengancam mogok kerja. Mereka menuntut pencopotan Lindawati, direktur rumah sakit tersebut.
Lindawati dinilai tidak transparan dan arogan. “Direktur sangat arogan. Sehingga membuat karyawan bekerja di bawah tekanan dan tanpa perlindungan hukum,” kata Indardi, koordinator karyawan, Selasa (14/04).
Indardi menjelaskan, rata-rata karyawan yang mengancam mogok adalah tenaga medis. Seperti perawat dan operator laboratorium. Persiapan mogok kerja itu terlihat dari sebuah tenda yang didirikan di halaman rumah sakit milik pemerintah daerah itu. “Rencananya, tenda itu akan digunakan sebagai posko perlawanan”, ungkapnya.
Sebelumnya, karyawan demo pada 11 Maret 2009. Mereka mendatangi gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah setempat. Ancaman mogok itu dilakukan jika tuntutan mereka tidak terpenuhi.
Kisruh ini berawal dari kebijakan Lindawati yang mengubah pola bagi hasil, rumah sakit mendapat 80 persen untuk perawatan sarana dan 20 persen untuk jasa layanan medis, dari pola 50:50. ”Kami menginginkan pola itu diubah,” katanya.
Selain manajemen yang tidak transparan, para karyawan juga mengeluhkan tidak adanya perlindungan hukum. Menurut mereka, keluarga pasien sering melakukan kekerasan seperti memukul, menampar dan membentak petugas medis. “Direktur tidak melakukan perlindungan dan tidak melaporkan kasus tersebut ke polisi,” ujarnya.
Tuduhan itu dibantah Lindawati. Menurutnya, manajemen rumah sakit sudah sangat transparan dan melindungi keselamatan karyawan. “Semua laporan keuangan telah diaudit dan pola pembagian itu juga merupakan kesepakatan pemerintah daerah, petugas medik dan manajemen,” katanya.
Dia mengaku telah menyerahkan persoalan itu kepada Bupati Lampung Tengah, Mudhiyanto Thoyib. “Bapak bupati dalam pertemuan dengan perwakilan karyawan mengatakan akan menurunkan tim untuk menyelidiki kasus tersebut. “Itu langkah baik,” ujarnya. Dia menambahkan rumah sakit yang dikelolanya kini menghadapi minimnya pasien. Dari 107 tempat tidur yang tersedia, hanya 47 persen saja yang terpakai.
NURROCHMAN ARRAZIE

