Namanya Dicatut dalam Ilusi Negara Islam, Peneliti Lapor Polisi

Kamis, 28 Mei 2009 | 13:51 WIB

bukuTEMPO Interaktif, Yogyakarta: Para peneliti yang namanya tercantum sebagai kontributor dalam buku Ilusi Negara Islam terbitan The Wahid Istitute, Maarif Institute dan Gerakan Bhineka Tunggal Ika akan melapor ke polisi. Mereka menganggap pihak penerbit dan penyantun dana, mencemarkan nama baik, sebab isi buku tersebut tidak sesuai dengan hasil penelitian mereka. Para peneliti di Yogyakarta yang akan melaporkan hal tersebut adalah Adur Rozaki, Zuli Qodir, Laode Arham dan Nur Khalik Ridwan.

“Saya sudah mundur dari tim penelitian pada pertemuan kedua di Yogyakarta, tetapi nama saya tetap dicantumkan dalam buku tersebut, itu tidak etis,” kata Adur Rozaki, salah satu peneliti Radikalisasi Islam Di Indonesia, Kamis (28/5).

Menurutnya, saat ini ia masih menunggu reaksi dari masyarakat soal buku kontroversial tersebut dan berkoordinasi dengan para peneliti yang lain guna melaporkan pencatutan nama tersebut. Ia menambahkan, isi buku Ilusi Negara Islam bukan hasil riset dan karya para peneliti yang tergabung dalam Yayasan Falsafatuna. Sebelum buku tersebut diterbitkan, para peneliti tidak pernah diajak bicara soal itu.

“Isi buku itu jauh dari hasil penelitian yang kami lakukan, tujuannya pun bergeser dari riset yang bertujuan akademik ke tujuan politis,” kata Rozaki. Bahkan, ia mengatakan buku tersebut tidak seradikal dengan hasil penelitian mereka.

Menurutnya, para peneliti daerah selain Yogyakarta, namanya juga dicatut hanya sebagai legitimasi politis dari kepentingan pihak asing seperti yang dilakukan oleh Holland Taylor dari Lib for All, Amerika Serikat. Ia menegaskan, buku tersebut harus ditarik dari peredaran, jika masih akan diterbitkan, nama para peneliti tidak boleh dicantumkan.

Senada dengan Abdur Rozaki, salah satu tim yang mengumpulkan data dari peneliti, M Subhi Ridlo menyatakan sangat keberatan dengan isi buku tersebut. “Isi buku itu bukan dari hasil penelitian para peneliti yang tersebar di seluruh Indonesia,” katanya.

Sementara informasi dari salah satu pengurus Lib For All yang enggan disebut namanya, isi buku tersebut berdasarkan dari laporan para peneliti. Namun saat ini pihaknya sedang cooling down, sambil menunggu pembicaraan lebih lanjut. Sedangkan Abdul Munir Mulkhan yang menjadi "sesepuh” penelitian saat ini sedang berbaring sakit di rumahnya di Kotagede Yogyakarta.

Sebelumnya, Tempo memberitakan, penerbitan buku Ilusi Negara Islam ini disertai beredarnya berita ancaman pembakaran terhadap toko buku yang menjual buku tersebut, melalui sms. Di berbagai situs, buku ini juga menjadi perdebatan panjang sejak pekan lalu.

MUH SYAIFULLAH

  • Share on Facebook
  • Send
  • Print

Komentar (4)

    baru download buku ini pas baca kata pengantarnya halah orang yang aneh membuat buku aneh dasr libelar

    ini bukti bahwa buku tersebut bermasalh....
    tidak profesional dan jujur....

    Inilah wajah kaum yang mengidap penyakit SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme). Mereka teriak-teriak kebebasan berekspresi. Tapi keteika ekspresi ISLAM YANG BENAR ditampilkan, mereka menolaknya.
    gusdur, syafii maarif, TOBATLAH. Jangan nyari makan dari pantat George Bush...udah tua, dikit lagi MAMPUS.
    (INILAH KEBEBASAN EKSPRESI...yang anda perjuangkan)

    Indonesia itu negara demokrasi, kebebasan berpendapat dilindungi undang2, kenapa para sponsor buku ini (wahid institute cs.)kelihatnnya jijik banget kalo ada orang Islam ngomong2 ttg syariahnya...
    Katanya pendukung demokrasi, kelompok liberal, kok liat orang lain yg beda pendapat benci banget...?
    Saya sbg orang biasa, melihat gelagat org2 yg ngaku intelektual pembuat buku ini, tapi pikirannya picik dan konservatif!

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan