Hobbit Memancing Kontroversi
Rabu, 24 Mei 2006 | 16:19 WIB
TEMPO Interaktif, Washington: Tim ilmuwan gabungan Inggris dan Amerika Serikat meragukan gagasan kerangka manusia kerdil dari Flores alias "hobbit" adalah spesies manusia baru. Tim itu justru mengajukan teori baru bahwa kerangka itu mungkin cuma manusia modern yang mengalami kelainan otak.
Dalam argumen yang dimuat dalam jurnal Science, mereka menyampaikan kritik teknis atas riset soal otak hobbit yang sebelumnya dipublikasikan pada jurnal yang sama. Namun, peneliti riset itu tetap mempertahankan gagasannya.
Kerangka manusia Flores yang diperdebatkan ini ditemukan tim peneliti gabungan Indonesia-Australia di sebuah gua di Liang Bua pada 2003. Sosoknya yang kerdil membuat kerangka ini dinamai hobbit, salah satu karakter dalam buku J.R.R. Tolkien.
Setelah melakukan analisis tulangnya, tim ini menyatakan hobbit sebagai jenis baru yang belum pernah dikenal dan diklasifikasi sebagai Homo floresiensis. Fosil ini terkadang juga disebut LB1, sesuai dengan inisial gua tempat dia ditemukan.
Penemuan hobbit menimbulkan sensasi ketika pertama kali diungkap dalam jurnal ilmiah Nature. Tingginya cuma satu meter dan mempunyai ukuran otak 400 sentimeter kubik. Sama dengan volume otak seekor simpanse.
Perkiraan usia sedimen di sekitar fosil itu mengindikasikan hobbit hidup hanya 18 ribu tahun lampau.
Perdebatan seputar hobbit muncul setelah publikasi sebuah studi di Science pada April 2005 tentang otaknya.
Tim yang dipimpin Profesor Dean Falk dari Florida State University di Tallahassee itu membandingkan cetakan bagian dalam rongga otak hobbit dengan cetakan manusia primitif dan modern, termasuk orang yang mengalami microcephalus. Penyakit ini ditandai dengan otak yang kecil dan biasanya diikuti cacat lainnya.
Data riset Falk ini mendukung gagasan bahwa LB1 bukanlah manusia modern, melainkan makhluk baru di dunia sains. Namun, tak serta-merta dunia sains mengakuinya.
BBC | sciencedaily





