NASA Pantau Awan Misterius

Rabu, 31 Mei 2006 | 15:25 WIB

TEMPO Interaktif, VIRGINIA: Awan biru keperakan yang tersebar menyelubungi langit di seluruh bumi memancing kecurigaan Badan Antariksa Amerika Serikat NASA. Sebuah wahana akan dikirimkan untuk menguak misteri awan berkilau yang bertambah terang dalam beberapa tahun belakangan itu.

Misi Aeronomy of Ice in the Mesosphere (AIM) ini akan menjadi satelit pertama yang dikhususkan untuk mempelajari fenomena itu. Satelit ini akan diluncurkan menuju orbit kutub dari Pangkalan Angkatan Udara Vandenburg, California. Paling lambat akhir 2006, wahana ini akan menjawab teka-teki apakah awan ini terjadi akibat pemanasan global, seperti dugaan banyak ilmuwan.

Awan yang dijuluki Noctilucent--alias bersinar di malam hari--ini terbentuk pada lapisan atmosfer bagian atas. Pada ketinggian sekitar 80 kilometer, kilauan biru keperakan itu dapat dilihat sesaat setelah matahari terbenam atau sebelum terbit.

"Meski matahari terbenam dan Anda berada dalam kegelapan, awan itu terletak amat tinggi sehingga matahari tetap menyinarinya," ujar penyelidik utama Aeronomy, James Russell, dari Hampton University di Virginia, Amerika Serikat. Russell menggambarkan misi itu dalam pertemuan American Geophysical Union di Baltimore, Maryland.

Awan yang pertama kali terlihat di atas kutub pada 1885 tersebut memunculkan dugaan awan itu terjadi akibat letusan Gunung Krakatau dua tahun sebelumnya. Namun, awan ini menyebar sampai ke garis lintang 40 derajat dalam beberapa tahun terakhir. "Juga tampak lebih terang, dan setiap tahun makin banyak dibanding sebelumnya," kata Russell.

Banyak peneliti yang percaya bertambah banyaknya awan ini akibat kegiatan manusia sendiri. "Hanya dibutuhkan tiga hal untuk menciptakan awan itu, yaitu partikel pengembun air, temperatur dingin, dan air," kata Russell.
Polusi dan pemanasan global, dia melanjutkan, dianggap bertanggung jawab atas dua dari tiga faktor itu. Air di atmosfer didorong aktivitas peternakan dan pembakaran bahan bakar fosil, yang mengirimkan gas metana ke atmosfer. Cahaya matahari menguraikan metana dan membebaskan hidrogen yang dapat mengikat oksigen membentuk air.

Gas rumah kaca, seperti karbon dioksida, membantu menyejukkan bagian atas atmosfer, tempat awan ini terbentuk. Hal ini terjadi karena kepadatan atmosfer pada ketinggian itu amat rendah sehingga gas tidak dapat menjebak panas seperti di dekat permukaan bumi. Akibatnya, panas diradiasikan kembali ke antariksa.

Namun, sampai saat ini belum ada ilmuwan yang bisa memastikan sumber partikel yang menyebarkan benih awan itu. Mereka cuma tahu awan itu terbentuk selama musim panas, ketika wilayah kutub bermandikan cahaya matahari tanpa henti. Atas dasar ini, muncul kemungkinan bahwa udara hangat yang naik di atas kutub dapat mengangkat debu dari lapisan atmosfer rendah ke atas, ke tempat air mengembun.
l tjandra | newscientist | science nasa

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: