close

Uji Coba Pertama Jatropha 100 Persen

Senin, 26 Juni 2006 | 10:42 WIB

TEMPO Interaktif, Bandung: Akselerasi kendaraan yang menggunakan minyak jarak murni lebih baik dibandingkan dengan solar dan campuran keduanya. Keunggulan minyak Jatropha curcas itu dibuktikan dalam Jatropha Expedition 2006 yang digelar Pusat Penelitian Bioteknologi Institut Teknologi Bandung, PT BioChem Prima International, dan National Geographic Indonesia.

Pada tahap praekspedisi Kamis lalu, tiga unit Mitsubishi Strada Double Cab dengan komposisi bahan bakar berbeda diuji melalui rute Jakarta-Bandung-Jakarta, yaitu komposisi 100 persen minyak jarak murni, 50 persen minyak jarak dan 50 persen solar, serta 100 persen solar.

Ketua Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi ITB Dr Robert Manurung mengklaim uji coba minyak jarak 100 persen itu pertama kalinya di dunia. "Yang pernah diuji coba selama ini penggunaan minyak jarak hasil esterifikasi dengan etanol (biodiesel)," katanya.

Pemilik PT Agraprana, Prabowo Karto Leksono, menyatakan semua kendaraan uji coba mempunyai kondisi sama. "Ketiga mobil itu di overhaul di Jakarta sehingga bisa dibandingkan apple to apple," katanya.

Khusus untuk mobil berbahan bakar 100 persen minyak jarak dimodifikasi dengan pemasangan converter. Fungsinya menurunkan viskositas (kekentalan) minyak jarak yang berbeda dengan solar.

Dalam pengujian di Jakarta dengan dynamic test, mobil berbahan bakar 100 persen minyak jarak memiliki tenaga maksimal 55,3 Hp. Lebih besar dibanding mobil solar murni, yang hanya 52,3 Hp. "Minyak jarak terbukti menghasilkan tenaga yang lebih besar," kata Prabowo.
Staf Menteri Badan usaha Milik Negara Al Hilal Hamdi menyambut baik pengujian itu. "Ini mimpi yang menjadi kenyataan," katanya.

Dia menaksir butuh 10 juta hektare pohon jarak untuk mengganti kebutuhan solar dan minyak tanah Indonesia dalam setahun. Tiap tahun kebutuhan dua jenis bahan bakar itu 40 persen dari 60 juta kiloliter. Saat ini baru ada 5 juta hektare lahan pohon jarak.

Al Hilal menyatakan PLN juga sedang menguji coba penggunaan minyak jarak untuk pembangkit listrik tenaga diesel di Lampung, Sektor Talang Padang. Dalam uji coba pembangkit listrik berkapasitas 70 megawatt itu, biaya bisa ditekan sampai Rp 300 tiap liter bahan bakar setara solar. Komposisinya 50 persen campuran minyak jarak dan 50 persen solar.

Di tempat yang sama, Direktur Utama PT Pindad Budi Santoso mengatakan pihaknya juga menyiapkan mesin pengolahan untuk petani berbahan bakar minyak jarak. "Pemerintah ingin petani yang menikmati bahan bakar murah itu, bukan perusahaan besar," ujar Budi.

Menurut Budi, pembuatan mesin ini dikerjakan teknisi Pindad. Setelah selesai, desainnya akan diserahkan kepada pemerintah. "Pabrik atau bengkel di pinggir jalan pun bisa mengerjakan karena konsepnya untuk kerakyatan," kata dia. l ahmad fikri | rana akbari fitriawan

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Topik :

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan