Mengapa Roket tidak Jadi Pesawat Komersial?
Jum'at, 28 Juli 2006 | 17:19 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pernah berpikir mengapa roket tidak pernah menjadi mesin pesawat terbang komersial? Mengapa roket terbatas untuk meluncur ke ruang angkasa atau mendorong peluru kendali? Mengapa tidak ada pesawat semacam Boeing 737 atau Airbus yang menggunakan roket? Jawabnya sederhana: waktu terbang.
Sebuah roket mesti membawa seluruh bahan bakarnya sendiri. Roket untuk mendorong pesawat ulang-alik atau peluru kendali, misalnya, hanya mengeluarkan tenaga selama beberapa menit sebelum bahan bakar habis.
Kemampuan roket dalam soal waktu terbang ini membuat pabrik pesawat memilih mesin jet. Berbeda dengan roket, jet tidak membawa oksigen sendiri untuk dibakar. Jadi bahan bakar yang dibawa hanya minyak tanah dan sebangsanya.
Oksigen untuk membakar cukup diambil dari udara di sekitarnya, sedangkan roket mesti membawa sendiri.
Meski begitu, bukan berarti tidak ada pesawat terbang yang bermesin roket. Sejak Perang Dunia II, Jerman sudah menggunakan pesawat tempur bermesin roket, Me-163.
Tugas pesawat bermesin roket itu hanya satu: mencegat pengebom atau pesawat tempur yang mendekati wilayah-wilayah penting Jerman.
Begitu pesawat mendekat, Me-163 akan diluncurkan. Kecepatannya membuat pilot sekutu tidak berkutik. Tapi pilot Jerman mesti melihat jam dengan baik. Hanya 8 menit setelah lepas landas, pesawat ini mesti sudah mendarat kembali.
Pesawat bermesin roket lain yang terkenal adalah Bell X-1. Ini adalah pesawat yang pertama kali menembus batas kecepatan suara pada 14 Oktober 1947.
Di masa mendatang, mungkin saja ada pesawat bermesin roket. Tapi kemungkinan itu adalah pesawat jarak jauh yang menempuh perjalanan di antariksa sebelum kembali ke bumi lagi.
NK
Topik :




Komentar Anda :