Anggrek Langka karena Jamur
Senin, 31 Juli 2006 | 11:27 WIB
TEMPO Interaktif, Bogor: Kebun Raya Bogor berhasil memperbanyak benih anggrek langka Tien Soeharto atau Cymbidium hartinahianum. Namun, anggrek endemis itu hanya bisa tumbuh dalam botol kultur karena habitat aslinya di Desa Baniara, Sumatera Utara, telah rusak.
"Anggrek itu sukar ditemukan di habitat aslinya, yang kini sudah terbelah jalan raya," kata Sofi Mursidawati, peneliti anggrek di Kebun Raya Bogor.
Kerusakan habitat ini mengakibatkan upaya reintroduksi untuk mengembalikan anggrek tanah berbunga kuning kehijauan itu ke habitat aslinya sulit dilakukan. Sofi menyatakan para peneliti belum sempat mempelajari habitatnya secara detail.
Meski anggrek tersebut butuh lingkungan pada ketinggian 1.800 meter, bukan berarti ia bisa tumbuh di tempat mana pun yang memenuhi syarat itu. Sofi mengatakan harus ada tindakan konservasi habitat aslinya.
"Kami belum tahu apakah serangga dan jamurnya masih ada," katanya. "Jangan sampai dilepas tapi terus mati. Sebab, di alam, anggrek ini tumbuh tidak mengelompok seperti anggrek lain, tapi terpencar mengikuti penyebaran jamur simbionnya."
Serangga dan jamur yang disebut Sofi memang amat menentukan dalam siklus kehidupan anggrek Tien Soeharto, dan juga anggrek lainnya. Awal kehidupan anggrek adalah masa paling kritis yang menentukan hidup dan matinya anggrek ini. Biji anggrek yang hanya sebesar debu tidak menyediakan cadangan makanan yang cukup.
"Biji harus jatuh ke tempat yang tepat untuk bertemu dengan jamur simbionnya. Kalau tidak, ia bisa mati," kata Sofi.
Jamur mycorhiza yang memiliki benang-benang panjang inilah yang menyediakan nutrisi bagi biji anggrek yang baru tumbuh. Simbiosis terjadi sampai anggrek dewasa dan bisa berfotosintesis sendiri bagi anggrek berklorofil. "Jamurnya tidak bisa sembarangan, tiap anggrek memiliki jamur simbionnya sendiri," kata Sofi. "Simbiosis dengan jamur tertentu inilah yang membuat beberapa jenis anggrek menjadi langka."
Setelah anggrek dewasa dan berbunga, tumbuhan paling modern dari sisi evolusinya ini juga masih perlu bantuan serangga untuk melakukan penyerbukan. Tak mengherankan, beberapa anggrek spesies yang tumbuh di alam memiliki bentuk dan bau yang bisa menarik serangga yang dibutuhkannya. "Ada anggrek yang kelompok bunganya berwarna merah seperti daging dan baunya seperti ikan busuk," kata peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia itu.
Koleksi anggrek spesies yang dimiliki Rumah Anggrek Kebun Raya Bogor kini sudah mencapai 500 jenis. Sekitar 100 spesies di antaranya bisa diperbanyak dalam botol kultur. Sofi menyatakan jumlah itu hanya sepersepuluh dari jumlah anggrek Indonesia yang mencapai 5.000-6.000 jenis. Kalimantan dan Papua memiliki jumlah anggrek terbanyak, yaitu 2.500-3.000, sedangkan di Sumatera ada 900 jenis dan Jawa punya 700 jenis anggrek.
"Kami tak bisa mengoleksi anggrek dataran tinggi di sini," kata ahli konservasi anggrek ini. "Khusus jenis itu hanya bisa tumbuh di Kebun Raya Cibodas dan Bali."
Sofi menyatakan sebenarnya jumlah anggrek Indonesia lebih besar lagi. Namun, dia khawatir banyak anggrek itu yang punah sebelum sempat diteliti karena tingkat kerusakan lingkungan yang tinggi. "Kami seperti berpacu dengan waktu," ujarnya. "Tahun kemarin kami eksplorasi, tahun ini habitatnya sudah rusak, seperti habitat Cymbidium hartinahianum yang menjadi jalan raya. Untung kami bisa mendapat bijinya."
Kini anggrek Tien Soeharto yang ditemukan peneliti LIPI Rusdi Nasution pada Juni 1976 itu baru tumbuh setinggi 3-4 sentimeter. Padahal bijinya telah ditanam dalam botol kultur sejak 2004. "Sangat lama untuk bisa berbunga, bisa sampai 10 tahun," kata Sofi.
tjandra
Topik :
- Angrek langka kena jamur
q gi dpt tugas dari dosen
tentang ekologi jamur
artikel ini sedikit membantuku
boleh gak q minta tolong
bantu nyari ekologi jamur
biar tambah lengkap lagi tugasku
makasih-- Ritsavia, Jember, 05/09/2008 09:57:29 wib




Komentar Anda (1) :