Populasi Berlebih, Dilepas ke Alam
Selasa, 08 Agustus 2006 | 11:52 WIB
TEMPO Interaktif, MALANG:Data Juli lalu, PPS satwa itu menampung tak kurang dari 263 ekor satwa berbagai jenis, mulai unggas, mamalia, sampai reptil. Populasi terbesar yang menghuni Petung Sewu adalah nuri dan kakatua, lebih dari 50 persen. Sisanya terdiri atas elang, kera Jawa, buaya, burung kasuari, burung merak, dan rusa.
Kelebihan populasi karena satwa hasil penyitaan dan satwa yang diserahkan warga ke tempat perlindungan binatang di Kecamatan Dau itu jumlahnya sangat besar. Padahal sarana dan fasilitas yang dimiliki Petung Sewu terbatas. "Tidak mencukupi untuk merawat semua satwa," kata Direktur ProFauna Internasional Rosek Nursahid, Senin lalu.
Dampak kelebihan populasi ini, menurut Rosek, PPS Petung Sewu tidak menerima penitipan satwa hasil penyitaan atau penyerahan dari warga pada tahun ini. Keputusan ini diambil mengingat terbatasnya petugas yang ada, sehingga dikhawatirkan perhatian petugas terhadap kesejahteraan satwa berkurang. "Banyaknya satwa yang dirawat membuat petugas kewalahan," ujarnya.
Untuk mengurangi populasi satwa yang ada, PPS Petung Sewu berniat melakukan pelepasan satwa ke alam jika kondisi satwa telah baik. Satwa yang akan dilepas itu antara lain burung nuri dan kakatua, yang akan dilepas di daerah Papua dan Maluku. Sedangkan 41 ekor kera Jawa dan 4 ekor kijang akan dilepas di Gunung Semeru Timur. Tim pelepasan akan berangkat hari ini.
Rosek berharap pemerintah daerah Malang memberikan perhatian atas masalah ini. Alasannya, keberadaan PPS Petung Sewu sebagai tempat penitipan satwa hasil penyitaan dan penyerahan sukarela itu bekerja sama dengan Dinas Kehutanan dan Kepolisian Malang Raya.
Setiap bulan, lembaga swadaya itu mengeluarkan dana Rp 50 juta untuk perawatan satwa, mulai pakan satwa, perawatan kandang, hingga tes medis satwa. l DINI MAWUNTYAS





