Bakteri Untuk Porong
Senin, 14 Agustus 2006 | 00:37 WIB
TEMPO Interaktif, Malang: Lumpur di Porong berkembang semakin mengkhawatirkan. Semburannya yang pernah terukur sebesar 50 ribu meter kubik per hari bukannya melemah, tapi semakin menjadi-jadi. Tim ahli dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, pernah memberi solusi pemanfaatan lumpur yang mendadak melimpah agar dibuat batu bata. Kebetulan banyak di daerah lain di Indonesia yang luluh lantak karena gempa.
Tapi, Umi Mawarti, peneliti dan pengajar mikrobiologi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang, punya alternatif solusinya sendiri. Menurutnya, solusi-solusi yang ditawarkan kebanyakan bersifat sesaat dan tidak memecahkan permasalahan sesungguhnya. “Yang harus dipikirkan adalah bagaimana lahan masyarakat bisa digunakan untuk bertambak dan bertani kembali,” katanya.
Berdasarkan hasil riset di laboratorium Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, kampus yang sama, lumpur Lapindo diketahui mengandung logam berat besi (Fe) terlarut dalam 0,1 N; HCl lebih tinggi dari 700 ppm; Mangan (Mn), Aluminium (AL), Natrium (Na), dan Chloor (Cl) juga cukup tinggi. “Dengan kandungan logam-logam berat itu lahan di sekitar Lapindo tentu tidak bisa digunakan lagi untuk sawah ataupun tambak,” kata Umi menambahkan.
Umi menegaskan, solusi pembuatan batu bata tidak mensterilkan senyawa-senyawa yang terkandung di lumpur. “Batu bata tersebut tentu saja masih membahayakan manusia dan ekosistem,” jelasnya
Proses reklamasi dengan pencucian tanah (lumpur) agar kadar mangan, khloor dan besi bisa hilang juga dianggap tidak efektif. Butuh lokasi lahan pencucian yang memiliki drainase baik, selain luasan lokasi dan ongkos yang besar. “Tanah yang terkena rembesan lumpur Lapindo juga bisa, gantian, tidak subur,” kata Umi.
Karena itu Umi menawarkan solusi berupa bakteri-bakteri pengikat yang mampu mengikat unsur-unsur logam berat itu dan memediasi lumpur hingga tidak berbahaya lagi. Di dalam laboratoriumnya, Umi menemukan satu jenis bakteri bergenus Bacillus yang memenuhi kriteria yang dicarinya.
Bakteri itu terbukti mampu hidup di dalam ekstrak lumpur Lapindo yang dikumpulkan Umi lewat bantuan dua mahasiswanya. Setiap satu bakteri mempunyai kemampuan menyerap kandungan logam berat (beracun) sampai sekitar 60 persen sitoplasmanya.
Umi mengatakan, penyebaran bakteri menjadi solusi yang efektif untuk memulai kehidupan baru di atas lumpur Lapindo tanpa membahayakan ekosistem. Bakteri yang mati pun akan menjadi kandungan bahan organik baru. “Sehingga, ketika kandungan bahan organik itu sudah tinggi, lumpur lapindo bisa ditanami lagi,” jelas Umi. “Lahan di Desa Renokenongo dan sekitarnya bisa kembali ke fungsi awalnya, menjadi sawah dan areal tambak.
dini mawuntyas

