Naik Sepeda Bukan Masalah
Rabu, 16 Agustus 2006 | 05:51 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Satu nama dimiliki: Syafitri. Bayi yang baru berumur seminggu itu memang memiliki satu badan dengan dua tangan dan dua kaki sehingga hanya memiliki satu nama. Tapi ia bisa saja memiliki dua nama karena memiliki dua kepala. Orang tuanya, Mulyadi, memilih memberi satu nama. "Menurut saya, Syafitri tetap satu hati satu jiwa," katanya.
Kembar siam seperti Syafitri memang baru pertama terjadi di Indonesia. Mulyadi pun menganggap bukan "kembar" sehingga memberi satu nama. Tapi ini bukan kejadian pertama di dunia.
Fenomena sama pernah diamali pasangan Amerika Serikat, Patty dan Mike Hensel, pada 1990. Kisah mereka mirip sekali dengan Mulyadi. Anak mereka lahir kembar siam, satu badan tapi memiliki dua kepala. Pasangan Hensel memutuskan menganggap mereka anak kembar, dua individu, sehingga memberi dua nama: Abigail dan Brittany.
Si kembar Hensel memang bisa menjadi pembanding kisah Syafitri. Hensel bersaudara ini hidup sehat-sehat saja dan bisa dibilang normal sampai sekarang meski tetap dengan satu badan. Malah 7 Maret silam mereka merayakan ulang tahun ke-16. Mereka hidup sebagai mana remaja yang lain. Bersekolah di SMU reguler, bukan sekolah khusus. Untuk mempermudah, tangan kanan "dimiliki" Abigail dan yang kiri dikendalikan Brittany.
Sebagian sistem syaraf mereka sama, sehingga bisa melakukan koordinasi tubuh dengan baik. Tidak hanya bisa berjalan, mereka bahkan suka bola voli, basket, berenang, berenang, sampai naik sepeda yang membutuhkan koordinasi tubuh total.
Sebagai dua individu, mereka juga memiliki selera sedikit berbeda dalam makanan dan pakaian. Seringkali mereka mengenakan kalung yang sama. Brittany membenci mustard yang sering ditorehkan Abigail di hotdog kesenangannya. Sedang Abigail tidak suka makanan kesenangan Brittany, apel.
Kondisi unik ini membuat Hensel cukup terkenal di Amerika Serikat. Stasiun televisi Discovery pernah meliput pada 1996 dan 1998 dengan judul Joined for Life. Oprah Winfrey mengundang dalam acara talk show pupuler pada 1996. Beberapa kali majalah Time menulis.
Untuk Syafitri, harapan hidup normal seperti Hensel tentu saja. ada. "Kalau fungsi organnya normal, kita hanya tinggal berserah saja pada Yang Maha Kuasa," kata Ketut Lila Murti, dokter anak yang menangani sejak lahir.
Syafitri memiliki masalah jantung dan organ tubuh lain seperti tidak ada anus. "Kelainan yang paling parah yang harus segera ditangani adalah kelainan jantung yang multikompleks," kata Ketut. Dokter pun mesti memastikan apakah arus darah menuju arteri dan paru-paru berjalan normal atau tidak.
Yang jelas, Syafitri tidak bisa dipisah karena hanya memiliki 1 jantung. Jadi, kata Adi Sukrisno, dokter spesialis kandungan dalam jumpa pers di rumah sakit Pelni, Petamburan, pekan lalu, "Jelas tidak mungkin dipisah antara kepala yang satu dengan kepala yang lain."
Kondisi Syafitri berbeda dengan si kembar Hensel. Kembar siam dari Amerika Serikat itu memiliki organ penting, seperti jantung dan paru-paru, dari dua orang sehingga memiliki peluang dipisah lewat pembedahan.
Orang tua Hensel memutuskan tidak melakukan pemisahan karena risikonya besar. Salah satu yang paling ringan adalah hidup di kursi roda seumur hidup karena tulang belakangnya menyatu hingga panggul.
Meski hidup cukup normal, bukan berarti Hensel bersis dari masalah. Empat tahun silam, mereka sempat menjalani bedah agar paru-parunya lebih mampu menyerap oksigen agar tidak mengalami masalah di masa mendatang.
nurkhoiri | Ninin Prima Damayanti | www.conjoined-twins.i-p.com | www.phreeque.com





