Hobbit Juga Manusia (Modern)
Jum'at, 25 Agustus 2006 | 03:54 WIB
TEMPO Interaktif, New York: Sejak temuannya diungkap dua tahun lalu, banyak keraguan dan pertanyaan muncul apakah hobbit benar spesies baru, Homo Floresiensis. Dalam makalah yang dimuat dalam Proceedings of The National Academy of Sciences. yang terbit pekan ini, Teuku Jacob, pakar paleontologi di Universitas Gajah Mada, Robert B. Eckhardt, profesor perkembangan genetik dan evolusi morfologi dari Pennsylvania State University, Amerika Serikat, dan beberapa peneliti lainnya membantah teori itu.
Dalam laporannya, Jacob menyebut 140 fitur tengkorak hobbit mulai dari ukuran otak, dahi yang menciut, wajah tidak simetri, ukuran kedua rahang sampai anomali gigi yang masih berada dalam variasi tengkorak manusia modern. Kemiripan terutama terhadap ciri-ciri fisik masyarakat Rampasasa.
“Kami telah menghapus kemungkinan kalau hobbits adalah sebuah spesies baru,” simpul Eckhardt kepada New York Times. Dia menyatakan LB1 -prototipe kerangka utuh dari Liang Bua- bukanlah anggota normal dari sebuah populasi spesies baru, “Melainkan anggota abnormal dari bangsa kita sendiri.”
Peter Brown, pakar paleontologi dari Australia, anggota tim peneliti yang menemukan hobbit, balas mengkritik studi kelompok Jacob dan Eckhardt. Brown mempertanyakan bukti-bukti kesamaan fitur fisik itu.
Dia merujuk kepada fakta temuan rangka yang terkubur cukup tebal oleh sedimen yang sangat mungkin menyebabkan distorsi. “Klaim tentang bentuk asimetri tengkorak yang menunjukkan pertumbuhan abnormal (mikrocephalus) juga fiktif,” tulisnya.
Klaim Jacob cs sebenarnya senada dengan yang pernah diungkap Robert Martin dalam Jurnal Science Mei lalu. Peneliti dari Field Museum di Chicago, Illinois, Amerika Serikat, itu mengatakan, ukuran otak hobbit terlalu kecil untuk mendukung argumen apapun yang digunakan untuk menyatakannya sebagai spesies terpisah.
“Kalau hobbit benar-benar spesies kerdil dari Homo erectus, mereka seharusnya memiliki tinggi badan sepertiga meter dan berat dua kilogram saja,” katanya. HObbit memiliki tinggi satu meter dan bobot 25 kilogram.
Karena itu Martin dan timnya berpihak kepada teori mikrocephalus. Penyakit itu genetis, keturunannya sangat mungkin mengalami hal yang sama. "Jadi, tidak mengejutkan kalau menemukannya dalam sebuah populasi di pulau yang kecil, terisolasi," katanya menambahkan.
Tambahan, Martin melanjutkan, fosil hobbit ditemukan dekat peralatan batu yang diperkirakan hanya bisa dibuat oleh manusia modern. "Tidak ada kesesuaian antara otak yang kerdil dengan peralatan batu yang rumit," katanya.
(nationalgeographic, nytimes)





