Gempa Susutkan Air Danau Toba
Minggu, 27 Agustus 2006 | 14:26 WIB
TEMPO Interaktif, Medan: Air danau Toba menyusut, bukan hanya karena pemanfaatan air secara besar-besaran, tapi juga karena pergeseran patahan Renun yang berada di bawahnya. Penyusutan ini membuat warga kesulitan memperoleh air untuk mengairi ladang.
Wilayah sekitar danau Toba yang menjadi lahan pertanian, kini banyak ditanami sawit. Akibatnya, menurut Jonatan Tarigan, koordinator Dewan Pakar Ikatan Ahli Geologi Indonesia Sumatera Utara, "Tanaman sawit banyak menyedot air danau." Sejumlah industri juga menyedot air besar-besaran danau terbesar di Indonesia itu.
Tapi faktor lain yang tidak bisa dihindari adalah pergeseran patahan Renun yang terletak di bawah danau. Pergeseran ini akibat gempa terus-menerus di sekitar wilayah ini.
"Gempa bumi tektonik yang susul menyusul akhir-akhir ini berakibat patahan sekunder di bawah Danau Toba yang merupakan jalur gempa aktif,mengalami rekahan baru," kata peneliti Danau Toba itu. "Akibatnya air menyusup melalui rekahan baru atau patahan sekunder yang jumlahnya ratusan."
Sumatera terletak di pinggiran lempeng Eurasia yang bertabrakan dengan lempeng Indo-Australia dan lempeng kecil Burma. Tabrakan ini mengakibatkan banyak patahan di Sumatera yang sangat aktif. Gempa-gempa besar sering terjadi di wilayah ini, termasuk yang menciptakan tsunami akbar di Aceh pada 26 Desember 2004.
Danau Toba sendiri, pada dasarnya adalah sebuah kaldera yang tercipta akibat ledakan raksasa--dianggap ledakan gunung berapi yang terlacak di dunia. Ledakan diperkiraka terjadi sekitar 60-80 ribu tahun silam.
Untuk menggambarkan betapa kuat ledakan Toba, di salah satu tempat di India ditemukan lapisan abu dengan karakter persis Toba. Ini menunjukkan abu itu dikeluarkan saat Toba meledak. Nah, abu itu tebalnya sampai 15 sentimeter.
SAHAT SIMATUPANG




Komentar Anda :