|
Si Buta dari Gua Karst
Jum'at, 01 September 2006 | 13:18 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Bak pencuri, Cahyo Rahmadi sempat merasakan bagaimana dikejar-kejar penduduk desa. Pengalaman tak terlupakan itu terjadi gara-gara peneliti dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini mengambil ikan dari Gua Jomblang di Gunung Sewu, Jawa Tengah, tanpa izin kuncen gua.
Masyarakat Desa Karangasem, Ponjong, tempat Cahyo melakukan eksplorasi gua karst itu, khawatir terkena tulah akibat tindakan pengambilan ikan. Apalagi ikan yang diambil tim LIPI itu bukan hanya satu ekor, tapi dua kantong.
"Waktu saya mau pulang dikejar-kejar. Mereka bilang, 'Pak, nanti saya yang kena tulah kalau Bapak ambil itu. Bapak sih nggak apa-apa, tapi kami yang kualat,'" kata Cahyo.
Penduduk desa itu mempercayai mitos yang melarang pengambilan segala macam jenis ikan yang hidup di dalam gua, juga mandi menggunakan sabun dekat mata air di dalam gua. Jika larangan itu dilanggar, mereka akan kena musibah, dalam bentuk kematian ataupun sakit berkepanjangan.
Namun, setelah dijelaskan bahwa pengambilan ikan itu demi penelitian semata, loloslah Cahyo dan timnya. Sang juru kunci, Mbah Martoyo, juga memintakan izin kepada penunggu gua lewat ritual khusus. "Itu bagus untuk konservasi. Jadi masyarakat tidak mau mengambil ikan di situ," kata Cahyo. "Jadi guanya masih bagus, bersih, dan populasi ikan melimpah."
Dari 16 gua yang mereka masuki di perbukitan batu gamping itu, Cahyo dan tim ekspedisi gabungan dari LIPI dan Universitas Gadjah Mada menemukan sejumlah organisme gua yang diduga kuat adalah spesies baru. Begitu juga dalam eksplorasi gua di Maros, Sulawesi Selatan, yang dibantu tim dari Universitas Hasanuddin. Tim LIPI yang dipimpin peneliti biota karst, Yayuk R. Suhardjono, itu mencatat belasan binatang yang diduga spesies baru dari dua ekspedisi di Maros, Sulawesi Selatan, dan Gunung Sewu pada pertengahan 2006.
Yayuk menyatakan, paling tidak ada lima spesies baru arthropoda Collembola. Dari moluska air tawar, ada satu spesies baru yang saat ini sedang dideskripsikan. Sedangkan dari famili Diplomatinidae, diperkirakan ada 15 spesies baru.
Adapun dari famili Arachnidae atau laba-laba, ada dua spesies baru yang dikoleksi dari gua karst di Sulawesi. Namun, Cahyo belum berani menyebutkan apakah ada laba-laba spesies baru yang ditemukan dari Gunung Sewu. "Masih butuh waktu untuk deskripsi," kata peneliti lulusan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada itu.
Dari kelas Crustacea diperoleh dua jenis kepiting baru dari Gua Saripa, dari genus Sesarmoides sp, dan sejenis udang. Daisy Wowor, pakar kepiting dan udang-udangan LIPI, menyatakan, dari gua Gunung Sewu juga ditemukan sejenis kepiting yang diduga spesies baru karena warnanya berbeda. "Tapi saya belum berani bilang itu spesies baru karena harus dideskripsi dulu," kata Daisy. "Sayangnya, itu bukan keahlian saya sehingga harus dideskripsi oleh orang luar."
Yayuk mengatakan penemuan spesies baru untuk invertebrata masih terbuka luas dibandingkan dengan jenis hewan bertulang belakang. Perempuan kelahiran 25 September 1950 itu mengatakan satu penemuan yang patut dicatat adalah ikan wader, Bostrychus sp, dari Gua Saripa, yang sama sekali tidak punya mata. "Mungkin spesies baru," katanya di gedung Widyasatwaloka Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Cibinong.
Kepala Puslit Biologi LIPI Cibinong Dedy Darnaedi mengatakan peneliti memang harus hati-hati untuk menyebutkan apakah binatang yang ditemukannya spesies baru atau tidak. "Bukan karena ragu. Peneliti itu boleh salah, tapi tidak boleh bohong," ujarnya. "Begitu dipublikasikan dan dideskripsi dengan nama mereka, kredibilitas dipertaruhkan. Kalau ternyata itu bukan spesies baru, dia bisa kehilangan muka."
Dedy menuturkan, untuk mengumumkan jenis baru, harus melalui proses identifikasi yang panjang dan lama. Spesimen binatang yang telah diawetkan itu harus dibandingkan dan dicocokkan dengan spesimen binatang lainnya. "Walaupun ukurannya mikroskopis, harus firm dulu sebelum bilang spesies baru."
Untuk mendeskripsikan moluska air tawar misalnya, Ristiyanti M. Marwoto harus mengirimkan spesimennya ke luar negeri. Dia bekerja sama dengan ahli taksonomi dari beberapa lembaga di luar negeri, seperti Museum Zoologi Humboldt University di Berlin, Jerman, serta National Natural History Museum Naturalis, Leiden, dan Museum Zoologi Amsterdam, Belanda.
Yayuk menyatakan eksplorasi di Maros pada 9-21 Juni dan di Gunung Sewu pada 3-16 Agustus 2006 ini amat penting bagi inventarisasi biota karst. Pasalnya, penelitian keanekaragaman hayati gua di Indonesia masih jarang. Akibatnya, informasi biotanya amat terbatas. "Padahal biota karst dan gua berperan penting dalam ekosistem. Beberapa di antaranya dapat dijadikan indikator hayati," kata Yayuk.
Kerang Kijing Unionidae dari Gunung Sewu, misalnya, dapat mendeteksi perubahan kualitas air. Kerang ini ternyata juga bisa dijadikan radioisotop.
TJANDRA DEWI
INDEKS BERITA LAINNYA :
|