Antara Madu dan Racun

Jum'at, 22 September 2006 | 14:19 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Gejala keracunan selenium beragam, mulai gangguan sistem pencernaan, gangguan saraf ringan, hingga menurunnya daya tahan tubuh. United States Institute of Medicine menetapkan batas aman selenium 400 mikrogram per hari untuk orang dewasa. Lebih dari 1.000 mikrogram per hari dapat menyebabkan keracunan dalam jangka panjang.
Kekurangan mineral ini juga menyebabkan penyakit keshan pada anak-anak, berupa pembengkakan jantung dan melemahnya fungsi jantung. Juga penyakit kashin-beck--yang menyebabkan penyakit tulang osteoarthropathy--dan retardasi mental myxedematous endemic cretinism.
Selenium bisa menjadi antioksidan. Bila bergabung dengan protein, selenium akan membentuk selenoprotein, yang amat penting sebagai enzim antioksidan. Selenoprotein membantu mengatur fungsi thyroid. Selain itu, ia memainkan peran dalam sistem imun. Antioksidan selenoprotein membantu mencegah kerusakan sel dari radikal bebas.
Radikal bebas ini secara alami memang dihasilkan sebagai akibat dari metabolisme oksigen. Namun, radikal bebas ini berbahaya karena memicu timbulnya penyakit kronis, semacam kanker dan penyakit jantung.
Tubuh mendapatkan pasokan selenium dari tanaman pangan. Kandungannya bergantung pada tanah tempat tanaman itu tumbuh atau binatang dibesarkan. Para ilmuwan telah mengetahui tanah dataran tinggi di bagian utara Nebraska dan Dakota di Amerika Serikat memiliki kadar selenium amat tinggi. Sebaliknya, di beberapa daerah di Cina dan Rusia, kadar selenium di tanahnya amat rendah sehingga banyak orang dilaporkan kekurangan mineral penting ini.
Selenium juga bisa ditemukan pada daging dan makanan laut. Binatang yang makan biji-bijian atau tanaman yang di lingkungan sekitarnya kaya selenium punya kadar tinggi zat ini pada ototnya. l TJANDRA DEWI






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: