Memerangi Malaria dengan Gula
Kamis, 28 September 2006 | 13:59 WIB
TEMPO Interaktif, YERUSALEM:Seorang ilmuwan dari Hebrew University, Profesor Yosef Schlein, mempublikasikan hasil studinya itu dalam majalah American Science dan International Journal for Parasitology. Studinya itu dilakukan berdasarkan fakta bahwa nyamuk betina gemar mengudap makanan manis di sela-sela makanan udaranya, darah manusia. Makanan manis ini diperoleh dari nektar bunga dan daun serta batang tanaman. Sari madu inilah yang memberikan tenaga bagi nyamuk.
Schlein dan rekan penelitinya, Günter Müller, dari Departemen Parasitologi di Hebrew University-Hadassah Medical School, memutuskan mempelajari kegemaran ini untuk membunuh nyamuk. Mereka berencana menyemprotkan cairan gula bercampur insektisida oral Spinosad ke pohon akasia.
Eksperimen dilakukan di sebuah oasis di daerah gurun selatan di Israel. Di sana terdapat tanaman yang berbunga sepanjang tahun, termasuk di musim kering. Schlein berasumsi di saat tak ada sumber nektar lainnya nyamuk akan tertarik pada tanaman ini.
Oasis itu dipilih untuk mengisolasi populasi nyamuk sehingga percobaan itu bisa dilakukan dengan efektif tanpa hadirnya nyamuk dari daerah lain. Ternyata penyemprotan insektisida oral ke pohon akasia mampu memusnahkan hampir seluruh populasi nyamuk di oasis itu.
Schlein menyatakan cara ini akan efektif bila dipadukan dengan pengetahuan tanaman mana yang disukai nyamuk. Bunga yang menjadi tempat favorit nyamuk pengisap nektar ini dapat digunakan untuk mengendalikan nyamuk dengan efisien, jika disemprot dengan campuran gula dan Spinosad. Insektisida oral ini hanya memiliki efek ringan pada serangga jenis lain serta toksisitas rendah pada burung dan manusia.
sciencedaily | tjandra





