Mengungkap Rahasia Virus Flu 1918
Senin, 02 Oktober 2006 | 17:03 WIB
TEMPO Interaktif, Washington: Tim peneliti di Amerika membuktikan bahwa virus flu H1N1 yang pernah mewabah 1918 lalu -dan merenggut 50 juta korban jiwa- memicu reaksi sistem kekebalan tubuh yang amat berbahaya. Temuan itu diungkap dalam jurnal Nature edisi terbaru.
John Kash, profesor mikrobiologi di University of Washington, yang menjadi ketua tim peneliti, menyatakan respons peradangan pada tubuh membuat virus jauh lebih berbahaya dari semestinya. “Sistem kekebalan tubuh boleh jadi bereaksi berlebihan dan jadi membunuh terlalu banyak sel,” katanya. Kash menguji hipotesis itu lewat hewan percobaan tikus.
Kash dan timnya membangun kembali struktur virus H1N1. Lewat analisis genomik fungsional, Kash mendapati sistem kekebalan tubuh tikus melakukan respons itu terhadap infeksi virus. Peradangan di paru-paru bahkan tetap menjalar meski tikus sudah mati hingga beberapa hari.
Christopher Basler, anggota tim dari Mount Sinai School of Medicine, New York, menyatakan, studi selanjutnya akan mengulangi eksperimen serupa. “Tapi, kali ini, dengan cara mendekonstruksi apa yang dilakukan sistem kekebalan tubuh sehingga kami dapat memahami mengapa ia jadi bereaksi berlebihan,” katanya menambahkan.
Basler menjelaskan, keberhasilan studi akan sangat membantu memahami dan mencari pengobatan atas serangan beragam varian virus flu, termasuk flu burung.
(bbc)





