Membunuh Si Pembawa Pesan

Rabu, 04 Oktober 2006 | 02:37 WIB

TEMPO Interaktif, STOCKHOLM:Bagaimana menghentikan sebuah pesan berbahaya? Cara termudah: bunuh saja sang pembawa pesan. Begitulah kira-kira temuan Andrew Z. Fire dan Craig C. Mello, dua ilmuwan Amerika Serikat penerima Hadiah Nobel Bidang Fisiologi dan Kedokteran 2006.
Mereka menemukan mekanisme RNA interference (RNAi), sebuah metode pengendalian alur informasi genetika. Temuan keduanya dianggap sebagai terobosan yang dapat "membungkam" atau mematikan gen over aktif atau rusak. "Temuan mereka menjernihkan bermacam pengamatan eksperimen yang membingungkan dan saling bertentangan," kata panitia Nobel, Karolinska Institutet, dalam keterangan tertulisnya. "Membuka jalan sebuah bidang riset baru."
Mekanisme ini memungkinkan dokter dan ilmuwan melenyapkan berbagai penyakit. Sebut saja berbagai macam penyakit, mulai penyakit yang disebabkan virus, kardiovaskuler, gangguan hormon, sampai penyakit keturunan.
Begitu spektakulernya penemuan ini, sampai-sampai panitia Nobel hanya membutuhkan waktu singkat untuk mengakuinya. Penemuan mekanisme RNAi ini pertama kalinya dipublikasikan di jurnal Nature pada 1998. Empat tahun berikutnya, jurnal medis Science menobatkan RNAi sebagai terobosan tahun itu.
Itu artinya Fire dan Mello cuma membutuhkan waktu delapan tahun antara publikasi dan Nobelnya, menyamai rekor pengakuan tercepat dalam sejarah Nobel. Sebuah medali Nobel biasanya dianugerahkan puluhan tahun kemudian, ketika sejarah membuktikan bahwa riset itu benar-benar terobosan yang menjadi landasan baru bagi ilmu pengetahuan.
Tak mengherankan jika Mello amat terkejut ketika namanya diumumkan sebagai peraih medali emas Nobel dan separuh dari uang Rp 13 miliar. "Saya terlalu muda dan banyak penemuan lain yang layak mendapat Hadiah Nobel," kata Mello, yang ditelepon pada pukul 4 dini hari.
Profesor kedokteran molekuler di Sekolah Kedokteran University of Massachusetts ini memang baru berusia 45 tahun. Dia tak mengira akan meraih Nobel secepat ini. "Saya terus memikirkannya, karena sulit dipercaya," kata Mello.
Perasaan yang sama dialami Fire. Dosen Sekolah Kedokteran di Stanford University, California, itu menyatakan amat gembira atas penghargaan itu. "Awalnya tentu saya tidak percaya," ujarnya. "Bagaikan sebuah mimpi atau kekeliruan."
Fire merasa sedikit bersalah karena memperoleh penghargaan prestisius bagi ilmuwan itu. Menurut dia, banyak peneliti lain yang seharusnya memperoleh kehormatan itu. "Banyak orang yang memberikan kontribusinya di bidang ini," kata Fire. "Saya tidak akan kaget melihat belasan nama muncul dalam kategori ini dan menontonnya dari luar. Lucu juga karena saya merasa bersalah memperolehnya."
Penemuan ini terjadi secara tidak sengaja. Pada 1998, Fire dan Mello bekerja sama mempelajari alur informasi genetika pada cacing tanah nematoda. Mello menggunakan cacing sebagai organisme model untuk menyelidiki bagaimana sel embrio berdiferensiasi dan berkomunikasi selama perkembangannya.
Ternyata mereka menemukan mekanisme yang dapat memotong alur informasi gen yang dibawa mRNA. Fenomena ini diberi nama RNA interference, yang ditemukan pada RNA untai ganda.
RNAi yang mereka temukan adalah sakelar molekuler alami, yang bisa mengatur ekspresi gen pada tanaman dan binatang, sama halnya pada manusia. Mereka bisa mematikan atau menghidupkan ekspresi gen itu dengan RNAi.

l tjandra | AP |AFP |gairdner |nobelprize






Komentar Anda

Kirim