Nyamuk Pun Tak Tahan Pahitnya Pare
Jum'at, 13 Oktober 2006 | 21:01 WIB
TEMPO Interaktif, Malang: Heri Kristanto langsung mengepalkan jari dan mengayunkan lengannya ketika panitia mengumumkan Endah Silfiyanti sebagai pemenang pertama Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia 2006 bidang ilmu pengetahuan alam. Kompetisi ini adalah ajang "balas dendam" bagi Heri yang tahun lalu hanya meraih peringkat kedua.
Dalam pemilihan peneliti remaja 2005 yang diadakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Heri mengajukan karya ilmiah tentang "Perbedaan efektifitas perawatan luka bakar derajat II dengan lendir lidah buaya (Aloe vera) dibandingkan dengan cairan fisiologis (Normal Salin 0,9%) dalam mempercepat proses penyembuhan." Tahun ini Heri membantu Endah Silfiyanti, rekannya di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya untuk maju dalam kompetisi serupa.
Belajar dari pengalaman sebelumnya, Heri dan Silfi berhasil meraih peringkat teratas dalam lomba bergengsi itu. Mereka mengajukan penelitian tentang "Pengaruh Ekstrak Daun Pare (Momordica charantia) dalam Menghambat Pertumbuhan Larva Nyamuk Aedes aegypti."
Sebagai mahasiswa Ilmu Keperawatan, Silfi dan Heri merasa prihatin dengan terus meningkatnya jumlah korban meninggal akibat penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti itu. "Dari tahun ke tahun jumlah meninggal terus bertambah" kata Silfi.
Berdasarkan data Departemen Kesehatan pada akhir Februari 2004 terdapat 12.482 penderita DBD di 21 provinsi, 241 orang diantaranya meninggal dunia. Organisasi Kesehatan Dunia WHO mencatat pada tahun 2004 terdapat 100 juta kasus demam berdarah setiap tahun, separuhnya membutuhkan rawat inap. Rata-rata angka kematian akibat penyakit ini mencapai 15 persen atau 25 ribu orang meninggal tiap tahunnya.
Salah satu alternatif memutus rantai penyebaran penyakit mematikan ini adalah menekan lonjakan populasi nyamuk, terutama pertumbuhan pada fase larva sehingga tidak akan berkembang menjadi nyamuk dewasa yang nantinya dapat menyebarkan virus dengue. Oleh sebab itu, Silfi meneliti cara mengendalikan populasi dengan menghambat perkembangbiakan nyamuk berkaki belang hitam putih itu.
Selama ini masyarat selalu menggunakan zat kimia untuk menghambat populasi nyamuk, misalnya dengan menebarkan bubuk abate. Padahal, menurut gadis asal Pati, Jawa Tengah ini apabila zat kimia tersebut diberikan pada nyamuk secara terus menerus, maka nyamuk beserta keturunannya akan kebal terhadap zat kimia. "Maka dibutuhkan pengendali nyamuk yang ramah lingkungan," kata mahasiswi semester sembilan itu.
Gadis kelahiran 12 Januari 1984 ini mulai meneliti pare yang telah dikenal luas di dunia kesehatan sebagai obat berbagai penyakit, mulai dari penurun demam, obat cacing batuk, hepatitis, malaria, sampai disentri. Tanaman pahit ini juga populer sebagai insektisida karena alkaloid yang terkandung di dalamnya.
Ternyata daun pare dengan kandungan momordicinnya yang pahit dapat mematikan perkembangan nyamuk Aedes aegypti beserta jentiknya. Ekstrak daun pare juga mempunyai efek larvasida terhadap larva nyamuk. Senyawa yang diduga berfungsi sebagai larvasida adalah saponin, flavonoid, triterpenoid, alkaloid dan minyak lemak.
Ekstrak daun pare yang diberikan terhadap jentik beserta larva nyamuk di dalam bak air berhasil membunuh sebagian besar jentik dan larva. Dalam tempo satu hari, jumlah jentik dan larva berkurang signifikan. "Bahkan tidak ada perkembangbiakan lagi," kata putri pasangan Suhardi dan Kunarti ini.
Dalam riset yang berlangsung Oktober sampai November 2005 itu, Silfi sengaja meneliti larva stadium 3 dan 4. Pada stadium itu larva mudah diidentifikasi dan senyawa alkaloid, yang fungsinya analog dengan hormon juvenil, aktif pada tingkat premetamorfik dan sangat esensial pada larva stadium 4.
Sebenarnya Silfi dan Heri tak menyangka bakal menyabet pemenang pertama. "Kami mendapat banyak pertanyaan dari juri dan pengujian berlangsung 1 jam 15 menit," kata Silfi. "Padahal teman sesama finalis lainnya hanya seperempat sampai setengah jam."
Mereka amat gembira dengan kemenangan yang tak terduga ini. Susah payah mereka berkutat di tiga laboratorium selama dua bulan di penghujung tahun lalu itu seolah hilang menguap. Untuk membuat ekstrak daun pare, mereka harus pergi ke laboratorium Teknik Kimia Politeknik Negeri Malang. Pelarutan selulosa carboxy methyl dilakukan di Farmakologi, dan pembiakan nyamuk di laboratorium Parasitologi Universitas Brawijaya.
Penelitian yang dilakukan di sela-sela waktu kuliah ini juga menguras energi. Konsentrasi yang terpecah antara penelitian dan kuliah membuat waktu penelitian molor. "Ekstrak yang seharusnya selesai dalam delapan sampai 10 jam, kenyataannya butuh waktu enam hari untuk menyelesaikannya," kata Silfi.
Kemenangan ini kian memicu semangat meneliti Silfi dan Heri. Mereka berencana melakukan penelitian lebih lanjut, termasuk menguji efektivitas daun pare terhadap nyamuk dewasa. Uji klinis derajat toksisitas bahan alami daun pare juga masih menanti, walau pun senyawa alami diyakini tidak berbahaya bagi manusia. "Ide ini juga akan dipatenkan," kata cewek yang bercita-cita menjadi seorang pendidik ini.
Penelitian lanjutan ini mutlak dilakukan karena mereka belum bisa memastikan apakah momordicin yang bertanggung jawab membunuh jentik nyamuk. Alasannya, metode pembuatan ekstrak adalah metode Soxhlet-sekadar memisahkan campuran padat-cair--, sehingga hasilnya belum spesifik senyawa momordicin. "Senyawa masih ikut larut dalam hasil ekstrak," kata Silfi. "Ini justru menguntungkan karena mudah diaplikasikan di masyarakat."
DINI MAWUNTYAS | TJANDRA DEWI
- Tanya
mbak atoo maz..
ku mau tanya nih..
gimana ya carana dpaet ide buat KIR..
cUntHel nii-- Kirana, Yogyakarta, 21/08/2008 19:34:56 wib




Komentar Anda (1) :