Terik di Kepala, Bara di Telapak Kaki
Kamis, 26 Oktober 2006 | 00:43 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pesan itu melayang jauh, kembali lagi ke Indonesia. Kali ini ke Jakarta, tepatnya ke Kantor Kementerian Ristek, dan diterima utuh Deputi Program Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Bambang Setiadi, sepekan lalu. Yang disasar tak bisa menjelaskan banyak.
Entah sudah berapa banyak surat semacam yang diterima Bambang dari para koleganya di Himpunan Gambut Internasional. "Apalagi waktu (kebakaran) 1997, wah ngeri aja, semua pada marah-marah," ungkapnya.
Tapi tunggu dulu. Tahun ini Bambang rupanya menyeleksi siapa-siapa saja yang bisa marah. Ahli manajemen lahan gambut itu mengaku tersinggung ketika ada berita yang menyebut pemerintah Singapura dan Malaysia ikut-ikutan marah.
"Tidak, mereka tidak berhak marah," tegasnya. "Kalau mau fair, mereka membayar oksigen yang dihasilkan hutan kita, uangnya bisa untuk mengatasi kebakaran seperti sekarang. Jangan bisanya hanya marah," katanya sewot.
Sengitnya api dan asap kebakaran hutan gambut juga dirasakan sendiri Dedi Hariri, staf pemantau kebakaran hutan di WWF-Indonesia. Ia dan teman-temannya sempat membantu tiga regu Manggala Agni yang sedang berjuang menjinakkan kebakaran di pinggiran Palangkaraya, awal bulan ini.
Terik matahari menyergap dari atas kepala, sedang panas bara api dirasanya menjilat-jilat dari dalam tanah. Saat itu Dedi menjadi saksi kalau tanah gambut yang sejatinya mirip spons -menyimpan banyak air, hingga 90 persen- bisa kering kerontang. "Kalau pas menginjak tanah yang panas sekali, sepatu bisa meleleh," katanya.
Tidak jelas arah rambatan api di balik permukaan tanah itu. Satu titik disuntik air, malamnya tanah di lokasi lain gosong, pohon di atasnya kering dan tiba-tiba roboh. Asap putih tebal yang menelusup diantara celah-celah tanah ikut mengaburkan asal muasal api.
Begitu seterusnya sampai sisa air hujan di parit-parit habis juga dan mereka pun undur. “Api gambut sulit dipadamkan, hanya akan bisa mati total setelah ada hujan intensif,” kata Dedi. “Itu artinya kebakaran bisa sangat lama, berbulan-bulan,” katanya menambahkan.
Bambang mengakui, dari tahun ke tahun, kebakaran hutan di lahan gambut Indonesia bukan lagi berdampak secara ekologi. Aspek ekonomi, kesehatan, dan politik juga kena dampaknya. Semua, kata dia, berpangkal kepada sentuhan yang salah atas hutan gambut.
Kawasan Pegembangan Lahan Gambut sejuta hektare adalah satu contoh besar dan mudah. Kawasan itu dipotong dengan sebuah kanal luar biasa panjang yang menghubungkan Sungai Kahayan dan Kapuas. Niatnya, membasahi lahan bukaan hutan dengan air segar tapi kanal justru menjadi saluran pelarian kandungan air dalam tanah gambut.
Tanah gambut terperkosa tanpa disadari, menjadi kempes, lalu kering. "Titik api, bisa saya buktikan, ada di sekitar kanal-kanal itu, termasuk kanal-kanal yang dibuat para pencuri kayu untuk mengangkut kayu," kata Bambang.
Bambang, rencananya, akan terlibat dalam Tim Ad Hoc Rehabilitasi Proyek Pengembangan Lahan Gambut -surat instruksi presidennya masih disiapkan. Tapi Bambang sudah tahu apa yang akan dilakukannya kelak: meneruskan investasi yang sudah terlanjur ditanam sembari menimbun kembali kanal-kanal yang ada. "Kanal yang ada ditutup supaya terjadi lagi proses pengumpulan air di tanah gambut," jelasnya.
wuragil/khaidir rahman (banjarmasin)





