Waktunya Waterbombing

Rabu, 01 November 2006 | 00:07 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Bukan Ilyushin 76TD, tapi Beriev Be-200. Sebanyak dua pesawat jenis Be-200 itu sejak Rabu malam sudah siap di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, untuk menjajal sengitnya kobaran api kebakaran hutan gambut Indonesia.

Pertama di ratusan titik api di Sumatera Selatan, berikutnya siap ke Kalimantan. “Pokoknya sampai titik-titik api itu habis,” kata Asep Karsidi, Direktur Teknologi Modifikasi Cuaca di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, kemarin.

Asep terlibat dalam tim nasional penanggulangan kebakaran hutan dan lahan melalui udara. Ia sudah sejak kemarin berada di Palembang menyambut kedatangan armada yang khusus disewa dari hanggarnya di Irkutsk, Rusia, itu. Bahkan sudah berminggu-minggu Asep mengurus perizinan kedatangannya hingga ia harus mengorbankan ritual khas Lebaran yang baru lalu: mudik.

Beriev Be-200 memang tidak se-raksasa waterbomber Ilyushin 76TD pilihan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Candid -sebutan NATO untuk Il 76TD- adalah pesawat dengan empat mesin jet turbo yang mampu mengangkut 42 ton air sekali terbang. Sedang Be-200 hanya bermesin ganda dan berkapasitas 12 ton air.

Tapi Asep menerangkan, Be-200 juga andal karena bisa 'hidup' di dua alam alias amfibi. Kelebihannya itu memungkinkan air bisa dikeduk langsung oleh pesawat dari muka air. “Lebih efektif,” katanya.

Tiba Senin malam, pesawat yang disewa lengkap dengan 30 kru-nya itu sudah melakukan pemanasan dan menyimulasikan pengambilan air dari perairan Selat Bangka. “Selepas jam satu siang ini misi sebenarnya sudah bisa dilakukan,” kata Asep kemarin pagi.

Siang itu juga Be-200 sudah ditunggu oleh 128 titik api di Ogan Komering Ilir dan 17 lainnya di Musi Banyuasin. Ini adalah misi pesawat sejenis di Indonesia. Selama ini, untuk waterbombing, tim hanya mengandalkan helikopter jenis B0 105. Bayangkan bedanya, armada lokal ini hanya mampu menjinjing kantong bambu bermuatan 500 liter air dan busa pemadam api (retardant).

Selain ditemani helikopter, armada pesawat legiun asing juga didukung tim hujan buatan. Berbeda dengan hampir sebulan lalu, kali ini Asep yang juga Kepala Unit Hujan Buatan di BPPT lebih optimistis.

“Cuaca sudah membaik,” katanya. Itu artinya atmosfer sudah mulai basah oleh pasokan uap air dari permukaan, awan konveksi bisa tumbuh menjulang. Hanya dengan awan seperti itu, garam yang ditebar dari pesawat Hercules bisa memancing pembentukan buliran hujan dan jatuh ke bumi.

Jadi, tidak ada alasan lagi titik api terus menyala dan asap berkeliaran sampai ke negara tetangga? “Kita tunggu hasilnya beberapa hari ini,” kata Asep.

(wuragil/airliners/aerospace-technology)






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: