Kotak Hitam Pulau Jawa
Selasa, 21 November 2006 | 03:56 WIB
TEMPO Interaktif, KEBUMEN: Bayangkan seperti apa wajah Pulau Jawa 120 juta tahun lampau. Ternyata, pada zaman itu, Pulau Jawa masih terendam di bawah samudra. Pulau yang kita kenal sekarang baru mulai terangkat ke permukaan karena berbagai aktivitas geologi. Bukti itu bisa terlihat di Cagar Alam Geologi Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah, yang baru saja diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 14 November lalu.
Di daerah yang terletak 19 kilometer di sebelah utara Kebumen itu berhimpun berbagai jenis batuan dan struktur geologi. Di tepi Kali Brengkok, misalnya, hanya 10 meter meter dari jembatan, terdapat singkapan batu tertua di Pulau Jawa. Umur batu sekis mika, yang berkilau keperakan, diperkirakan 121 juta tahun.
Tak jauh dari tepi jalan, tergeletak batu serpentinit, yang menjadi saksi proses evolusi lempeng Asia. Batu ini semula berasal dari kerak samudra yang terangkat ke permukaan akibat tumbukan dua lempeng besar, yaitu lempeng samudra Indo-Australia dan lempeng Benua Asia. Memegang batu hijau gelap ini bagaikan menjelajahi lantai samudra tapi di atas permukaan tanah.
Di sini juga bisa ditemui Gunung Parang, sebuah gunung yang gagal menjadi gunung api. Batuan beku ini sudah mengalami intrusi, tapi mendadak terhenti dan mengalami erosi. "Kolom-kolomnya menarik (sebagai media) untuk mempelajari bagaimana proses terbentuknya gunung berapi," kata Munasri.
Keistimewaan daerah seluas 20 x 30 kilometer persegi inilah yang membuat Karangsambung dianggap sebagai jendela untuk mengintip isi perut bumi yang sudah berumur ratusan juta tahun. Hampir segala jenis batuan tersingkap di Karangsambung. Mulai batuan dari kerak bumi, lempeng samudra (rijang), sampai lempeng benua (sekis mika) bisa dilihat di sini.
"Bisa dibilang Karangsambung adalah kotak hitamnya Pulau Jawa," kata Chusni Anshori, peneliti geologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Karangsambung.
Keunikan formasi batuan ini tak dapat ditemukan di tempat lain di Indonesia. Kepala Unit Pelaksana Teknis Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung LIPI Dr Munasri menyatakan Bantimala di Sulawesi Selatan dan Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan juga memiliki struktur batuan tua tapi tersebar di lokasi yang berjauhan. "Di sini kecil, tapi komplet," kata Iskandar Zulkarnain, Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI.
Kawasan itu memiliki tiga jenis batuan dasar, yaitu batuan beku, sedimen, dan metamorf. Di lokasi itu juga bisa dilacak bukti proses evolusi lempeng kerak bumi. Para ahli geologi yakin, fenomena geologi yang khas selama terjadi evolusi bumi atau sejak zaman kapur, 120 juta tahun lampau, sampai sekarang bisa dirunut di Karangsambung.
Selain itu, lapangan geologi Karangsambung ini menyimpan jejak-jejak tumbukan yang terjadi pada 140-90 juta tahun lalu. "Fenomena gempa bumi di Sumatera dan Pangandaran yang terjadi akibat tumbukan antarlempeng itu juga terjadi di Karangsambung pada 60 juta tahun lalu, dan patahannya ada di sini."
Sayangnya, belum semua situs bernilai ilmiah tinggi ini dibebaskan menjadi milik negara. Sebagian besar--dari 30 situs, baru delapan yang telah dibebaskan menjadi milik negara--justru masih berada di tangan masyarakat sehingga menjadi obyek penggalian batu dan pasir.
Gunung Parang, misalnya, tiap musim kemarau selalu terkikis palu para pencari batu. "Batunya bagus untuk bahan bangunan," kata Munasri. "Padahal, kalau dibandingkan, nilai ekonominya tidak lebih tinggi daripada nilai ilmiahnya."
LIPI memang telah melindungi sebagian Gunung Parang itu, terutama struktur kolom batu cantik yang mirip dengan Devil's Tower di Wyoming, Amerika Serikat. Masalahnya, bagian belakang gunung itu belum dibebaskan dan masih terus digali. "Kalau digali terus belakangnya, lama-lama depannya habis juga," tutur doktor geologi itu. "Jadi kami berpacu, mana yang lebih cepat antara pelestarian dan penambangan."
Penggalian batu ini mengakibatkan hilangnya batu gamping orbitulina dari kawasan Karangsambung, yang terletak di Kabupaten Banjarnegara. Munasri juga mengkhawatirkan perbukitan batu gamping Jatibungkus, yang mengandung fosil koral dan alga. "Batu itu, kalau dipecah-pecah dan dimasukkan ke tungku, bisa menjadi kapur tohor," katanya.
Lahirnya keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral yang mengangkat status lapangan geologi ini menjadi cagar alam geologi pertama di Indonesia itu diharapkan dapat memberi kekuatan hukum untuk menghentikan kegiatan penggalian batu langka ini. Munasri juga rutin "mengamen" ke berbagai kecamatan dan bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat untuk membangun kesadaran masyarakat.
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI Hery Harjono menyatakan keberadaan kawasan yang pertama kali ditemukan oleh pakar geologi R.D.M. Verbeek pada 1891 ini amat penting bagi ahli geologi. Tak kurang dari 10 ribu ahli geologi dihasilkan dari sana.
"Karangsambung juga menjadi bukti teori lempeng tektonik dan menjadi referensi dunia," kata Hery. "Coba bayangkan kalau gunung itu habis, ya sudah selesai, tidak bisa diapa-apakan lagi. Sedangkan para penggali bisa mencari batu lagi ke gunung lain."
tjandra dewi




Komentar Anda :