Ada Kolesterol di Matanya

Rabu, 20 Desember 2006 | 19:51 WIB

TEMPO Interaktif, SURABAYA: Mata adalah jendela jiwa. Ungkapan itu menggambarkan, lewat mata, kita bisa menyelami perasaan seseorang. Ternyata tak sebatas jiwa yang bisa diteropong dari mata. Lewat indra penglihatan itu, kita juga bisa mengetahui kondisi kesehatan seseorang, paling tidak kelebihan kolesterolnya.
Teknik mendeteksi kelebihan kadar kolesterol lewat bola mata inilah yang mengantarkan Dwi Ratnasari meraih anugerah Youth National Science and Technology Award. Anugerah dari Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga itu diterimanya dalam "Festival Pemuda Berprestasi 2006" pada pertengahan Desember lalu.
Satu-satunya pemenang perempuan dalam kompetisi sains itu mengembangkan sebuah peranti lunak untuk pendeteksi kelebihan kadar kolesterol melalui citra iris mata yang dinamai Iridosoft. Dwi menggabungkan ilmu iridologi--yang mempelajari kondisi tubuh manusia dari iris mata--dan ilmu informatika, yang dipelajarinya. "Kedua ilmu itu memungkinkan pendeteksian kolesterol pada bola mata," kata mahasiswa semester VII Jurusan Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, itu.
Untuk mendeteksi kolesterol, Dwi memotret bola mata menggunakan kamera digital. Kamera digital saku yang umum ditemui di pasar juga bisa digunakan. Syaratnya, citra mata ini diambil pas pada bola mata dengan pencahayaan tepat untuk menghindari noise (gangguan). "Biasanya orang yang terkena kolesterol pada iris matanya ada lingkaran putih buram," katanya. "Lingkaran ini adalah sodium."
Dwi menyimpan citra iris mata itu dalam format "bmp" di komputer karena Irodosoft dibuat dengan sistem matlab menggunakan matriks. Format "bmp" juga menggunakan matriks sehingga program Irodosoft mampu membacanya, berbeda dengan format "jpg", yang tidak menggunakan matriks.
Dalam waktu lima hingga 10 menit, Iridosoft akan mendeteksi apakah seseorang memiliki kadar kolesterol tinggi atau tidak. Mata penderita kolesterol ditandai dengan adanya lingkaran putih di sekitar bola mata. Jika seseorang tidak menderita kelebihan kolesterol, iris mata terlihat bening.
Software ini akan mengabarkan secara otomatis dalam layar komputer dengan kata "kolesterol" atau "nonkolesterol". Jika citra yang dideteksi terlalu banyak gangguan, software akan menginformasikan gambar tidak mampu dideteksi.
Peranti lunak buatannya ini menggunakan metode Canny untuk mendeteksi tepian citra mata yang disimpan dalam format bmp di komputer. Dwi juga menggunakan circular hough transform untuk melakukan segmentasi citra iris, dan metode principle component analysis (PCA) untuk proses pemilahan fitur.
Metode PCA sengaja dipakai karena mampu melakukan analisis data dalam jumlah besar. Pemilahan ini bertujuan memudahkan pemilahan fitur kelas nonkolesterol dan kolesterol.
Ada empat tahap PCA. Tahap pertama, menentukan kolom vektor database citra mata yang dilanjutkan pencarian nilai matriks kovariansi. Dari nilai itu, diperoleh nilai Eigen dan vektor Eigen. Pada tahap terakhir, dilakukan reduksi dimensi database citra iris untuk efektivitas proses pemilahan.
Identifikasi dilakukan dengan mencari selisih minimum antara citra yang diuji dan database citra yang dilatihkan. "Hasil uji coba terhadap 60 citra mata didapatkan keberhasilan identifikasi kolesterol sebesar 75 persen," kata gadis kelahiran Ponorogo, 1 September 1985, itu.
Mencari citra iris mata para penderita kolesterol menjadi satu kesulitan yang harus diatasi Dwi. "Biasanya pasien malu kalau diketahui menderita kolesterol tinggi," katanya.
Untunglah, dia mendapatkan 60 citra bola mata dari sebuah klinik kesehatan. Data pembanding inilah yang menjadi dasar untuk mendeteksi kolesterol pada iris mata.
Meski validitas Iridosoft cukup tinggi, mencapai 75 persen, Dwi menyatakan temuannya perlu pengembangan lagi. Nantinya dia berencana membuat software yang bisa mengukur kadar kolesterol secara kuantitatif.
Kurang sempurnanya pendeteksian terjadi karena kesalahan pada proses segmentasi. Hal itu terjadi karena nilai batas atas dan batas bawah radius mata kurang tepat atau tertutup kelopak dan alis mata.
Meski kurang sempurna, para juri kompetisi menganggap hasil kerjanya selama satu semester itu layak diberi anugerah. Bersama empat pemenang lainnya, Dwi berhasil menyisihkan 23 peserta lain dari seluruh Indonesia dan memperoleh trofi dan uang tunai Rp 10 juta. "Hadiah ini akan saya gunakan untuk mengembangkannya lebih lanjut," katanya.

sunudyantoro | tjandra






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: